Tradisi Mebanten Harian Menjadi Roda Penggerak Ribuan UMKM di Bali

  • 04 Jul 2026 06:19 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Wacana pengurangan intensitas sesajen harian di Bali, yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu, bisa memicu dampak domino yang berisiko melumpuhkan sektor ekonomi kerakyatan berbasis budaya di tingkat akar rumput. Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.

Nyoman Arya mengungkapkan rantai pasok kebutuhan upakara tradisional selama ini, telah menjadi tumpuan hidup utama bagi ribuan pekerja informal, mulai dari hulu hingga hilir di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Struktur pasar tradisional di Bali, sangat bergantung pada konsistensi umat yang membeli sarana canang harian, untuk memenuhi kewajiban ritualnya di merajan maupun tempat usaha.

Menurut Nyoman Arya jika kuantitas kebutuhan pasar tiba-tiba dipangkas secara drastis atas nama efisiensi keluarga, maka stabilitas pendapatan para pelaku usaha mikro akan langsung terguncang hebat. Ia menggarisbawahi pentingnya melihat aspek finansial masyarakat kecil dari kelangsungan tradisi ini. "Mebanten adalah bentuk distribusi kesejahteraan berbasis budaya dan spiritual, dalam hal ini perputaran uangnya langsung mengalir ke kantong petani bunga, pedagang busung ( janur), hingga perajin semat," ujar Nyoman Arya.

Nyoman Arya mengungkapkan sektor pertanian lokal khususnya budidaya bunga gemitir dan pacar air, akan menjadi korban pertama yang merasakan hantaman ekonomi, apabila gerakan pembatasan mebanten ini meluas. Lesunya serapan pasar di tingkat domestic, juga akan mematikan produktivitas para perempuan pembuat sarana upakara dari janur, yang memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari tambahan penghasilan.

Kemiskinan struktural baru dikhawatirkan muncul, apabila profesi-profesi tradisional seperti serati banten kehilangan ruang kerja, akibat adanya simplifikasi ritual yang berlebihan dari standar sosial masyarakat. Menurut Nyoman Arya perlindungan terhadap eksistensi ekosistem ekonomi kreatif keagamaan ini, harus diperjuangkan demi menjaga ketahanan finansial masyarakat Bali, dalam menghadapi tantangan zaman.

Nyoman Arya mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi umat Hindu, justru lahir dari konsistensi merawat tradisi luhur, yang menciptakan lapangan kerja mandiri. "Pengurangan aktivitas mebanten, berdampak langsung pada hilangnya pendapatan ribuan usaha mikro, sehingga kita harus tetap mempertahankan budaya ini, demi tegaknya kesejahteraan rakyat kecil," tutup Nyoman Arya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....