Penyuluh Kemenag Denpasar Dorong Desa Adat Kelola Sampah Sisa Upakara

  • 04 Jul 2026 06:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Persoalan sampah masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Terlebih ketika momen hari raya agama Hindu, tentu terjadi lonjakan sampah upakara yang membutuhkan penanganan ekstra.

Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., mengungkapkan solusi atas lonjakan volume sampah ritual keagamaan, bukanlah dengan mengurangi frekuensi mebanten, melainkan melalui pembenahan sistem pengelolaan limbah upakara berbasis lingkungan. Menurutnya kebijakan mitigasi ekologis yang tepat sasaran menjadi sangat mendesak, agar kesucian aktivitas spiritual umat Hindu Bali tetap berjalan harmonis berdampingan dengan kelestarian alam sekitar.

Nyoman Arya menambahkan bahwa unsur organik dari sisa sesajen atau upakara, sebenarnya sangat ramah lingkungan karena mudah terurai secara alami kembali ke tanah. "Persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini, bersumber dari penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan sintetis berbahaya lainnya, sehingga komponen-komponen polutan inilah, yang wajib dieliminasi dari sarana upakara," ujar Nyoman Arya ketika berbincang dalam acara obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.

Gerakan pembatasan bahan non-organik dalam pembuatan canang menurut Nyoman Arya harus digalakkan kembali secara masif, melalui peran aktif lembaga adat dan penyuluh keagamaan di lapangan. Langkah preventif ini dinilai jauh lebih efektif, dibandingkan memunculkan polemik teologis, yang berpotensi mencederai keyakinan spiritual masyarakat yang sudah mengakar sejak berabad-abad lalu.

Terkait strategi penanganan limbah organik di tingkat hilir, Nyoman Arya menawarkan konsep integrasi daur ulang. "Kita harus mendorong pengembangan Bank Kompos berbasis Desa Adat, agar sisa-sisa bunga upakara dapat diolah kembali menjadi pupuk organik bermanfaat yang bernilai ekonomis tinggi," ungkap Nyoman Arya.

Kombinasi antara kesadaran ekologis dan modernisasi fasilitas pengolahan sampah, diharapkan mampu menyelesaikan dilema sanitasi perkotaan, tanpa harus mengorbankan rutinitas ritual Nitya Karma Puja. Melalui pendekatan yang komprehensif ini, keasrian lingkungan pulau dewata akan tetap terjaga, sekaligus mempertahankan martabat spiritualitasnya.

Nyoman Arya menegaskan bahwa prinsip dasar yang harus dipegang oleh seluruh komponen masyarakat, adalah memperbaiki saluran pembuangan limbah, tanpa merusak sumber nilai-nilai luhur keagamaan itu sendiri. Kedewasaan dalam memilah sampah ritual menjadi kunci utama, agar aktivitas mebanten harian tidak lagi dituduh sebagai penyumbang beban ekologis bagi daerah perkotaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....