Filosofi Mendalam di Balik Serunya Permainan Tradisional

  • 24 Jun 2026 18:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Di balik riuhnya tawa anak-anak saat bermain di halaman rumah, tersimpan warisan tak kasat mata yang kini perlahan tergerus riuhnya dunia digital. Gobak sodor, bentengan, hingga egrang yang dahulu menjadi raja di tanah lapang, sejatinya bukanlah sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah laboratorium sosial yang menempa karakter dan nilai luhur bangsa sejak usia dini.

"Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional (PROT) bukan sekadar sarana rekreasi fisik di masa lalu, melainkan instrumen efektif dalam pembentukan karakter anak bangsa seperti gotong royong dan sikap fair play," jelas Dosen S1 Penjas UAP sekaligus perwakilan KPOTI Pusat, Bang Fadlu Rachman, M.Pd. Dikutip dari siaran Suara Budaya Nusantara, nilai-nilai interaksi langsung seperti ini justru menjadi barang langka yang mulai hilang dari pola hidup anak-anak zaman sekarang akibat ketergantungan gawai.

"Salah satu contohnya tradisi Hom Pimpa Halayum Gambreng yang berakar dari bahasa Sanskerta, memiliki makna mendalam bahwa manusia berasal dari Tuhan dan kelak akan kembali kepada Tuhan, lengkap dengan konsekuensi moral di setiap pilihan hidup kita," tambah Bang Fadlu Rachman. Beliau juga memaparkan filosofi congklak yang mengajarkan manajemen waktu bekerja dan pentingnya menabung, serta egrang yang menyimbolkan tiga elemen penting dalam kepemimpinan kuno di tanah Pasundan.

Kekayaan filosofis tersebut menjadi bukti otentik betapa leluhur kita telah menyisipkan pelajaran hidup yang sangat matang lewat aktivitas yang menyenangkan. Keunikan ragam PROT di tanah air pun sangat dipengaruhi oleh kearifan lokal serta kekayaan alam setempat, mulai dari pemanfaatan batok kelapa di pesisir pantai hingga bilah bambu di daerah hutan.

Guna membendung kepunahan akibat modernisasi, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) mengambil langkah taktis untuk menyelamatkan kekayaan ini tanpa harus memusuhi perkembangan teknologi. Hingga saat ini, lembaga tersebut tercatat telah berhasil mendata dan membukukan sebanyak 2.600 jenis permainan tradisional dari Sabang sampai Merauke ke dalam tiga jilid kitab besar.

Namun, upaya pembukuan ini tidak akan berdampak besar jika tidak dibarengi dengan kesadaran dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Punahnya permainan tradisional di tengah masyarakat sering kali justru dipicu oleh kurangnya kepedulian dari orang tua sendiri sebagai pewaris utama kebudayaan.

Oleh karena itu, para orang tua kini diimbau untuk kembali meluangkan waktu berharga mereka bersama anak-anak di rumah. Memperkenalkan dan memainkan kembali permainan tradisional menjadi langkah nyata untuk membangun kehangatan keluarga sekaligus menyelamatkan generasi masa depan dari dampak negatif keterasingan sosial akibat gawai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....