Membaca Filosofi Laung, Penutup Kepala yang Menjaga Kehormatan Masyarakat Banjar

  • 17 Jun 2026 09:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik bentuknya yang sederhana sebagai penutup kepala tradisional, laung menyimpan pesan budaya yang diwariskan lintas generasi masyarakat Banjar. Tidak hanya menjadi bagian dari busana adat, laung juga hadir sebagai simbol kehormatan, identitas, dan pengingat nilai-nilai kehidupan yang terus dijaga hingga sekarang. Filosofi tersebut menjadi pembahasan utama dalam program Suara Budaya Nusantara kolaborasi RRI Pro 4 Jakarta dan RRI Banjarmasin, Senin 15 Juni 2026.

Seniman dan budayawan Banjar, Masdar, menjelaskan bahwa laung memiliki kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Banjar. “Laung itu bukan sekadar penutup kepala, tetapi simbol kehormatan bagi laki-laki Banjar. Ketika mengenakannya, seseorang diingatkan untuk menjaga adab, sopan santun, dan wibawa di mana pun berada,” ujarnya dalam siaran tersebut.

Menurut Masdar, tradisi laung telah dikenal sejak masa Kesultanan Banjar dan terus diwariskan hingga kini. “Secara adat ada delapan jenis laung yang dikenal masyarakat Banjar. Ada Laung Raja yang biasa digunakan pengantin dan pejabat daerah, ada juga Laung Damang yang menjadi simbol para tetua masyarakat. Untuk perempuan, terdapat penutup kepala khas yang disebut Bulang,” katanya.

Lebih jauh, Masdar mengungkapkan bahwa setiap bagian laung memiliki makna filosofis yang kuat. Ikatan kain yang melingkar di kepala dibentuk menyerupai huruf Lam Alif atau Lam Jalalah sebagai simbol perlindungan diri dan pengingat nilai-nilai keislaman yang melekat dalam kehidupan masyarakat Banjar. Filosofi tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan laung dari penutup kepala tradisional lainnya.

Pada bagian belakang laung terdapat lipatan yang terinspirasi dari bentuk daun sirih serta motif pucuk rabung atau bambu muda. Simbol tersebut menggambarkan kemandirian, kejujuran, regenerasi, dan keteguhan dalam menjaga kehormatan diri. Nilai-nilai itu diwariskan sebagai pedoman hidup agar masyarakat tetap menghormati sesama dan menjaga martabatnya.

Filosofi serupa juga tercermin pada berbagai motif kain yang digunakan sebagai pelengkap laung. Beberapa di antaranya adalah motif halilipan (kelabang), tampuk manggis, dan kanas (nanas). Melalui simbol-simbol alam tersebut, leluhur Banjar menitipkan pesan tentang pentingnya keselarasan antara perkataan dan hati, serta sikap hidup yang tidak merugikan orang lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....