Dana Kecil, Pahala Besar: Rahasia Ketulusan dalam Hindu
- 24 Jun 2026 10:38 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Diah Widya Utami, mengajak umat Hindu untuk memahami kembali hakikat dana atau pemberian sebagai wujud ketulusan hati, bukan sekadar persoalan besar kecilnya nominal yang diberikan. Pesan tersebut disampaikan dalam program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, yang mengangkat tema Makna Sejati Dana dalam Ajaran Agama Hindu, Mimnggu, 21 Juni 2026.
Dalam pemaparannya, Diah menjelaskan bahwa kehidupan modern sering membuat masyarakat menilai segala sesuatu berdasarkan kuantitas dan angka-angka. Kondisi tersebut turut memengaruhi cara seseorang memandang nilai sebuah pemberian atau dana punia.
Ia menilai masih banyak umat yang merasa malu untuk berdana karena nominal yang mampu diberikan dianggap terlalu kecil. Padahal, menurutnya, ajaran Hindu lebih menekankan kemurnian niat dan ketulusan dibandingkan besarnya materi yang disumbangkan.
“Kita terlalu sibuk menghitung jumlah yang keluar dari kantong, sampai lupa menghitung seberapa besar ketulusan yang keluar dari hati,” ujar Diah. Ia menambahkan bahwa Tuhan tidak menilai manusia berdasarkan angka, melainkan berdasarkan kesucian niat yang melandasi setiap perbuatan.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut mengutip ajaran suci yang mengibaratkan dana tulus seperti biji pohon beringin yang kecil namun mampu tumbuh menjadi pohon besar dan memberi manfaat luas. Analogi tersebut menunjukkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan hati suci dapat berkembang menjadi berkah yang besar bagi banyak orang.
“Walaupun dana itu berjumlah kecil dan tidak berarti, tetapi jika diberikan dengan hati yang suci, ia akan membawa kebaikan yang tak terkira,” katanya. Menurutnya, ketulusan, sraddha, dan keikhlasan merupakan faktor utama yang menentukan nilai spiritual sebuah pemberian.
Ia juga mengingatkan bahwa Bhagawad Gita mengajarkan bahwa persembahan sederhana seperti daun, bunga, buah, maupun air akan diterima Tuhan apabila diberikan dengan penuh bakti. Karena itu, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berdana tanpa harus menunggu menjadi kaya.
Selain membahas ketulusan, Diah menjelaskan adanya tiga jenis dana dalam Bhagawad Gita, yaitu sattwika dana, rajasika dana, dan tamasika dana. Ketiganya dibedakan berdasarkan motivasi, cara pemberian, serta sikap pemberi terhadap penerima.
“Ketika Anda memberi tanpa sedikit pun terlintas pikiran apa yang akan saya dapatkan nanti, di situlah ketulusan mencapai puncaknya,” jelasnya. Ia menyebut bentuk pemberian tersebut sebagai sattwika dana yang lahir dari kesadaran dan kewajiban moral untuk membantu sesama.
Lebih lanjut, Diah menekankan bahwa berdana bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga latihan spiritual untuk mengendalikan ego, keserakahan, dan keterikatan terhadap materi. Melalui pemberian yang tulus, seseorang sesungguhnya sedang memurnikan diri sekaligus memperkuat keyakinan di jalan dharma.
“Besar kecilnya pemberian adalah urusan duniawi, tetapi tulus tidaknya pemberian adalah urusan rohani,” tegas Diah. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu berbagi meskipun dengan kemampuan yang terbatas, karena ketulusanlah yang menjadi ukuran utama dalam pandangan spiritual.
Melalui refleksi tersebut, umat Hindu diharapkan mampu menumbuhkan semangat berdana yang dilandasi rasa syukur, kasih sayang, dan keikhlasan. Dengan demikian, setiap pemberian yang dilakukan dapat menjadi sarana pengabdian, penyucian diri, serta membawa manfaat bagi kehidupan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....