Tradisi Manampuang, Cara Unik Membagi Daging Kurban
- 08 Jun 2026 10:29 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Agam – Di tengah maraknya sistem pembagian daging kurban menggunakan kupon, masyarakat Jorong Sitingkai, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tetap mempertahankan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan nama Manampuang.
Dalam bahasa Minangkabau, manampuang berarti menampung. Tradisi ini menjadi cara khas masyarakat setempat dalam mendistribusikan daging kurban pada Hari Raya Iduladha sekaligus menjaga nilai kebersamaan dan keadilan sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap tahun, menjelang sore hari setelah proses penyembelihan dan pemotongan hewan kurban selesai, ratusan hingga ribuan warga berkumpul di sekitar Masjid Taqwa Sitingkai. Mereka berbaris rapi di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan sambil membawa wadah masing-masing untuk menampung daging kurban.
Wadah yang digunakan pun beragam, mulai dari kantong plastik, ember, panci hingga baskom. Seluruh warga menunggu giliran dengan tertib hingga panitia kurban mulai membagikan daging secara langsung.
Berbeda dengan sistem pembagian pada umumnya, panitia tidak membagikan kupon kepada warga. Sebaliknya, petugas berjalan menyusuri barisan sambil membawa daging kurban dan memasukkannya langsung ke wadah yang dipegang warga.
Proses pembagian dilakukan secara berulang. Setiap orang menerima satu potong daging, kemudian petugas kembali berkeliling untuk memberikan bagian berikutnya hingga seluruh persediaan daging kurban habis dibagikan secara merata.
Keunikan lain dari tradisi Manampuang adalah sistem pembagiannya yang dihitung berdasarkan jumlah jiwa, bukan berdasarkan kepala keluarga. Dengan demikian, setiap orang yang hadir dan ikut mengantre, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, memperoleh bagian yang sama.
Masyarakat setempat menilai sistem tersebut lebih mencerminkan prinsip keadilan karena seluruh warga memiliki kesempatan yang setara untuk mendapatkan daging kurban. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Tanpa adanya kupon, warga terdorong untuk datang langsung ke lokasi pembagian. Momentum tersebut kemudian menjadi ajang silaturahmi tahunan yang selalu dinantikan warga dapat saling bertemu
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....