Dalang Cilik Aden Azka Astroberi Putra Jadi Pembuka Suluk Hijrah Mahjura

  • 29 Apr 2026 17:17 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Suasana pembukaan peluncuran buku antologi puisi Suluk Hijrah Mahjura karya Ki Dalang Wawan Ajen terasa berbeda saat seorang dalang cilik tampil di hadapan penonton. Aden Azka Astroberi Putra membawakan pertunjukan wayang golek dengan percaya diri, menghadirkan energi segar di tengah acara yang sarat nuansa reflektif.

Sorot lampu jatuh pada tubuh kecilnya yang bergerak mantap. Kedua tangannya memainkan wayang dengan ritme terjaga, sementara perubahan suara menghadirkan karakter yang silih berganti tanpa jeda canggung.

Aden baru berusia 9 tahun. Ia duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ibnu Khaldun Lembang, Bandung Barat. Dunia wayang ia kenal sejak 2025, ketika masih kelas 2 sekolah dasar, sebuah perkenalan yang tumbuh menjadi kedekatan.

Ketertarikannya pada dunia pewayangan berangkat dari keinginan menjaga warisan budaya. Ia memandang wayang sebagai bagian penting yang perlu terus dikenalkan kepada generasinya.

Di antara berbagai tokoh, Gatotkaca menjadi figur yang paling ia kagumi. Sosok tersebut dianggap mewakili keberanian dan kekuatan yang menginspirasi.

“Saya suka wayang karena ingin melestarikan budaya. Karakter wayang yang saya suka Gatotkaca karena gagah,” ungkap Aden di sela acara yang berlangsung di Kedai Kazanan x Kobam Coffee, Lembang, Selasa malam, 28 April 2026.

Pengalaman tampil Aden terbilang luas untuk usianya. Ia telah hadir di berbagai panggung, mulai dari Rumawat Padjadjaran di Unpad Bandung, NHI Ngaraga Budaya, pembukaan pameran otomotif internasional di Jakarta, hingga Semarak Wayang Nusantara dan Festival Dalang Cilik di Kota Bekasi. Ia juga tampil dalam perayaan tahun baru di Ciater Lembang.

Dari panggung ke panggung, Aden membawa pesan sederhana kepada generasinya. Ia mengajak anak-anak lain untuk tidak melupakan budaya sendiri di tengah arus hiburan modern.

“Ayo kita lestarikan budaya Sunda seperti wayang golek,” ucap putra Asep Haelusna yang merupakan pengusaha restoran Asep Stroberi (Astro) tersebut.

Penampilan tersebut mendapat perhatian dari pendiri Wayang Ajen, Wawan Gunawan alias Ki Dalang Wawan Ajen. Ia melihat potensi Aden sebagai bagian dari generasi baru dalam dunia pewayangan.

Menurutnya, kemampuan Aden sudah mencakup berbagai aspek penting dalam pertunjukan. Penguasaan karakter, keluwesan gerak, serta spontanitas dinilai menunjukkan bakat yang menonjol di usia muda.

“Aden punya bakat yang sangat luar biasa. Anak kecil seperti Aden usia baru 9 tahun sudah bisa memainkan berbagai karakter, berbagai tokoh, berbagai gerak, berbagai motif. Humornya ada, spontannya ada, pakemnya ada, kreatifnya ada. Itu sudah luar biasa. Paling tidak dia tampil ada keberanian,” papar Wawan Ajen.

Wawan Ajen juga melihat kemunculan dalang cilik sebagai tanda berkembangnya proses regenerasi. Upaya pembinaan yang dijalankan dinilai mulai memperlihatkan hasil yang menggembirakan.

“Perkembangan dalang cilik saat ini Alhamdulillah. Kita optimis saja ya, karena memang saya sudah jalankan. Kalau dilihat di Sanggar Wayang Ajen kan sudah kita buka dari tahun 2022 sampai 2026 ini berjalan lancar,” ujarnya.

Di Sanggar Wayang Ajen, proses pembelajaran dilakukan secara terstruktur. Sistem evaluasi dan peningkatan kemampuan diterapkan untuk memastikan perkembangan peserta didik berjalan konsisten.

“Kita sudah melahirkan beberapa dalang. Sekolah di Sanggar Wayang Ajen itu profesional. Jadi kita serius, ada evaluasi, ada penilaian dan lain sebagainya, ada peningkatan. Itu di Bekasi alhamdulillah berjalan. Bukan hanya komunitas Sunda tapi Nusantara,” kata Wawan Ajen.

Pembinaan tersebut juga diperluas ke lingkungan masyarakat. Program dalang cilik di Desa Wisata Kertawangi, Bandung Barat, menjadi salah satu upaya untuk menjangkau lebih banyak anak.

“Jadi anak-anak SD, kayak Aden itu lebih dari 60 mah ada. Itu di Balai Desa kurang lebih ini sudah berjalan sampai 8 bulan,” ujarnya.

Meski berjalan baik, proses tersebut tidak lepas dari kendala. Ketersediaan mentor menjadi tantangan yang harus diatasi agar latihan tetap berlangsung secara berkelanjutan.

“Tadinya saya sudah menciptakan beberapa mentor di situ, tapi ada kendala karena mentornya harus kerja, harus pindah. Jadi, saya harus menciptakan mentor-mentor baru lagi agar kalau saya ada di mana, latihan tetap jalan,” ungkap Wawan Ajen.

Dalam proses pembinaan, Wawan Ajen menekankan pentingnya kesabaran. Pendekatan yang telaten dinilai menjadi kunci dalam mendampingi anak-anak belajar.

“Tantangannya kita harus telaten, harus sabar. Itu rumusnya, sabar aja dulu,” tuturnya.

Di sisi lain, ia menilai adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Dunia digital yang dekat dengan anak-anak perlu dimanfaatkan sebagai sarana pendekatan.

“Kalau wayang tidak update, ditinggalin. Ketika TikTok-nya dia ramai nonton kayak gitu, kenapa tidak diterapkan di wayang,” ucap Wawan.

Ia melihat pendekatan kreatif sebagai jalan untuk menjembatani tradisi dengan kebiasaan baru. Unsur hiburan populer dapat diolah kembali dalam format pewayangan tanpa menghilangkan nilai dasarnya.

“Gaya dari TikTok ganti dengan wayang. Dia nonton di TikTok ada humor kayak gitu ganti kan di wayang tapi distilasi dalam bentuk format wayang. Sehingga anak itu betah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....