Musu Mase, Batu Sakral Pemersatu dan Penghubung Leluhur Suku Lio
- 07 Apr 2026 08:51 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang- "Musu Mase" atau batu pemali yang ditancapkan di tengah kampung adat Suku Lio, Kabupaten Ende, bukan sekadar hiasan artefak, melainkan simbol pusat orientasi spiritual dan alat pemersatu masyarakat. Batu ini dihayati sebagai mediator antara langit yang memberikan hujan dan matahari dengan bumi yang menghasilkan pangan.
Pengurus Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Pusat, Drs. Blasius Radja, M.Si, menjelaskan bahwa Musu Mase memiliki nilai kesakralan tinggi karena dianggap sebagai tempat berhimpunnya roh para leluhur. Hal tersebut ia sampaikan dalam program Obrolan Budaya Pro 4 RRI Kupang bertajuk "Musu Mase Lio: Nilai Budaya dan Makna Spiritual", Minggu, 5 April 2026.
"Musu Mase adalah mediator. Langit berperan memberikan hujan dan sinar matahari, sementara bumi menerima hujan dan menghasilkan tanaman. Batu ini menjadi perantara komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta melalui para leluhur," ujarnya.
Dalam sejarahnya, pengorbanan tertinggi pada zaman purba menggunakan manusia sebagai bentuk persembahan termahal, namun seiring perkembangan zaman, praktik tersebut telah lama ditinggalkan. Saat ini, ritual di Musu Mase menggunakan hewan kurban seperti ayam, babi, dan kerbau
Ia merinci makna di balik pemilihan hewan tersebut, seperti ayam yang menjadi simbol pengingat waktu bagi manusia (fajar menyingsing), kemudian babi, hewan yang umum digunakan dalam seremonial adat harian karena jangkauan harga yang wajar, serta kerbau yang digunakan untuk upacara besar seperti pengukuhan kepala suku (Mosalaki) atau pembangunan rumah adat (Sauria Tinabewa), dengan syarat harus kerbau jantan yang belum kawin, karena dianggap sebagai hewan yang misterius dan sakral.
Selain fungsi spiritual, Musu Mase juga berfungsi sebagai tempat penyelesaian konflik atau sengketa keluarga. Karena dianggap sebagai tempat berhimpunnya roh leluhur, setiap orang yang berbicara di tempat tersebut wajib menjunjung tinggi kejujuran.
"Jika ada yang berbicara tidak jujur saat penyelesaian sengketa di Musu Mase, masyarakat percaya akan ada karma atau malapetaka yang menimpa pembohong tersebut," jelasnya.
Selain itu, sistem adat di sekitar Musu Mase menjamin keadilan sosial bagi rakyat jelata (Anahalo). Siapapun yang tinggal di wilayah kemosalakian tidak boleh mati kelaparan; mereka diberi lahan untuk bekerja dengan kewajiban memberikan persembahan (Upeti) secara sukarela saat paska panen sebagai wujud syukur.
Terkait posisi Musu Mase dalam narasi pariwisata, Blasius menekankan pentingnya menjaga wibawa adat. Ia menegaskan bahwa siapapun, termasuk pejabat atau turis, yang memasuki ruang sakral atau rumah adat harus menyesuaikan diri dengan mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan.
"Adat bukan tentang menyembah batu atau pohon, tetapi tentang menjaga ekosistem dan hubungan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Jika pohon di sumber mata air tidak disakralkan, orang akan menebangnya dan mata air akan kering," tegasnya.
Blasius berharap generasi muda Suku Lio tetap menjaga ikatan rasa dengan leluhur meski hidup di era modern. Menurutnya, Musu Mase adalah watak kebendaan yang diformulasikan menjadi kekuatan spiritual untuk mempersatukan masyarakat tanpa paksaan. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....