Menjaga Akar Budaya: 23 Dalang Cilik Banyumas Siap Teruskan Tradisi Wayang
- 28 Mar 2026 22:40 WIB
- Purwokerto
RRI. CO. ID, Banyumas – Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Banyumas menunjukkan komitmen serius dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi melalui program pembinaan generasi muda yang terstruktur. Langkah ini diambil untuk memastikan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan tetap memiliki penerus di tengah gempuran budaya modern.
Ketua Pepadi Banyumas, Sriyono, menjelaskan bahwa pengembangan Gagrag Banyumas memiliki ciri khas yang membedakannya dari gaya Solo maupun Yogyakarta.
"Perbedaan tersebut terlihat nyata pada penggunaan musik gending khas, pola suluk, hingga dialek bahasa Ngapak yang menjadi ruh dalam setiap pementasan", ujar Sriyono di sela pergelaran sayang kulit semalam suntuk, Sabtu (28/3/2026) di Kali Rajut Desa Notog kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas.

Sejalan dengan hal tersebut, Marjoko, seorang pecinta wayang sekaligus tokoh masyarakat, menekankan bahwa wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan media tuntunan moral yang lengkap. Beliau memiliki obsesi agar wayang dengan dialek lokal tetap menjadi tuan rumah di tanah sendiri.
"Wayang harus menjadi sarana untuk memperkuat identitas warga Banyumas. Dengan bahasa Ngapak, pesan-pesan moral dalam lakon wayang akan lebih mudah diserap dan dirasakan kedekatannya oleh masyarakat," ungkap Marjoko mantan Banyumas ke-31 yang menjabat dari 11 April 2008 sampai 11 April 2013.
Komitmen pelestarian ini dibuktikan dengan munculnya generasi baru seniman muda di bawah binaan Pepadi Banyumas: Dalang Dewasa: Menghadirkan Mas Panji Laksono Among Carito (25 tahun) yang telah tampil di berbagai kota besar seperti Solo dan Jogja.
Dalang Remaja: Terdapat 8 dalang di rentang usia 15-17 tahun yang aktif dalam pembinaan.Dalang Anak: Sebanyak 23 anak usia 6-11 tahun rutin berlatih, bahkan salah satu delegasi berusia 10 tahun berhasil meraih Juara 2 tingkat nasional.
Lakon Lokal "Kali Serayu"
Sebagai bagian dari edukasi sejarah, pementasan lakon "Kali Serayu" terus diangkat untuk memperkenalkan asal-usul lokal kepada generasi muda melalui dialog (antawacana) yang sepenuhnya menggunakan bahasa Banyumasan.
Marjoko berharap pemerintah dan masyarakat terus memfasilitasi ruang ekspresi bagi para seniman agar wayang tidak hanya muncul di acara formal, tetapi tetap hidup di desa-desa sebagai bagian dari kehidupan sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....