Raja Kanishka I Persatukan Bangsa Melalui Hari Nyepi

  • 18 Mar 2026 18:35 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 17 Maret 2026, menjelaskan sejarah panjang hari raya Nyepi yang berasal dari ajaran Hindu India, saat terjadi konflik sosial berkepanjangan. Momentum perdamaian tersebut diinisiasi oleh Raja Kanishka I dari suku Saka, yang kemudian membawa tradisi tersebut ke Nusantara, melalui peran para pedagang serta pendeta Hindu.

Sistem penanggalan Saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi ini, menjadi fondasi utama bagi umat Hindu di Indonesia khususnya Bali, dalam menetapkan hari suci untuk merenung.” Perayaan Nyepi ini didasarkan pada penanggalan Saka yang dibawa oleh para leluhur kita dari India sebagai simbol persatuan dan perdamaian di tengah kemajemukan bangsa” ujar Wintenaya.

Wintenaya menambahkan perkembangan ajaran ini terus bertransformasi menjadi kearifan lokal yang kuat, hingga diakui sebagai identitas spiritual masyarakat Bali, dalam menjaga keharmonisan antarwilayah. Menurutnya akar sejarah ini membuktikan bahwa Nyepi bukan sekadar tradisi tanpa alasan, melainkan sebuah solusi atas krisis sosial yang pernah terjadi di masa lampau.

Makna filosofis dari sejarah ini mengajarkan umat, untuk selalu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan juga alam semesta yang menjadi satu kesatuan utuh. Dengan memahami asal-usul ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mengikuti ritual secara fisik, tetapi juga mampu menyerap semangat rekonsiliasi yang dibawa oleh para tokoh masa lalu.

Wintenaya menjelaskan implementasi nilai sejarah ini, tercermin dalam kesadaran umat untuk menghentikan seluruh aktivitas duniawi secara serentak, demi menghormati warisan budaya yang telah turun-temurun dijalankan oleh nenek moyang. Keberhasilan Raja Kanishka dalam mendamaikan berbagai suku melalui spiritualitas menjadi inspirasi bagi dunia modern, tentang pentingnya pengorbanan diri dalam mencapai ketenangan kolektif.

Melalui pemahaman sejarah ini, nilai-nilai toleransi dan kedamaian diharapkan dapat terus tumbuh dalam setiap perayaan tahun baru Saka setiap tahunnya."Sejarah membuktikan bahwa penghentian aktivitas atau sepi, adalah jalan menuju perdamaian sejati, yang membawa keseimbangan bagi kehidupan manusia di seluruh penjuru bumi."tutup Wintenaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....