Merawat Warisan Kauman Tenabang Lewat Seni dan Ukhwah

  • 28 Feb 2026 06:08 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah denyut kehidupan Tanah Abang, berdiri sebuah yayasan yang lahir dari rahim tradisi dan semangat kebersamaan, yakni ISBAT. Sebelum menjadi yayasan, ISBAT berawal dari sanggar seni budaya yang tumbuh dari lingkungan Kauman orang asli Tenabang. Akar sejarahnya terhubung dengan pengajian kampung yang berpongkol kepada seorang ulama besar Tenabang, Abdul Mujib bin Sa'abah. Dari tradisi mengaji dan bershalawat inilah benih seni budaya keagamaan Kauman mulai berkembang dan diwariskan lintas generasi.

Anasrulah ketua Ikatan Seni Betawi atau disapa dengan Bang Anas mengatakan, "TenabangISBAT mulai dibentuk pada Juli 1997,nama organisasi ini mengalami beberapa perubahan, dari IRSI (Ikatan Remaja Salamatul Insan), lalu ISBT (Ikatan Seni Betawi Tenabang), hingga akhirnya mantap menjadi ISBAT", ujar Anas di saat wawancara dalam acara Obrolan Komunitas di RRI Pro 4 Fm, Selasa, 24 Februari 2026, melalui sambungan telp. Logonya berbentuk lingkaran hitam dengan gambar rebana ketimpring di tengah, diapit padi dan kapas, yang melambangkan gerak seni budaya bernuansa keagamaan serta harapan kesejahteraan sosial bagi para pelaku seni. Berlokasi di wilayah H. Awaludin, Warung Ayu, dan Gang Mess, Kelurahan Kebon Melati RW 017, ISBAT tumbuh sebagai rumah bersama bagi para pecinta seni Betawi Tenabang.

Gagasan pembentukan sanggar ini dipelopori oleh almarhum H. Komarudin yang membuka ruang musyawarah bersama para tetua Kauman, atas masukan Bang H. Latif Paseban yang dikenal ahli dalam tradisi palang pintu Betawi. Dengan dukungan almarhum H. Amin Fauzi, seorang pemain film, serta almarhum Bang Soleh, kameramen TVRI, sanggar ini mulai aktif menggelar pelatihan pantun berbalas dan koreografi pencak silat. Padahal jauh sebelumnya, masyarakat Kauman telah lebih dulu menjalankan praktik seni budaya keagamaan seperti Maulid Nabi, syukuran khitanan, aqiqah, hingga arakan sunat keliling kampung.

Gagasan pembentukan sanggar ini dipelopori oleh almarhum H. Komarudin yang membuka ruang musyawarah bersama para tetua Kauman, atas masukan Bang H. Latif Paseban yang dikenal ahli dalam tradisi palang pintu Betawi. (Foto: Anas)

Baca Juga : Menjaga Warisan Menguatkan Regenerasi Silat Tradisional

Sebagai sanggar pertama di Tenabang yang menjalankan praktik palang pintu sekaligus mengadakan festival palang pintu dan pencak silat bekerja sama dengan Gedung Thamrin City, ISBAT pernah memiliki sekitar 50 anggota dari berbagai usia dan wilayah, mulai dari Tenabang, Petamburan, Lontar, Karet Tengsin, hingga H. Nawi Blok A Jakarta Selatan dan Depok. Seiring waktu, banyak di antara mereka yang kemudian mendirikan sanggar di daerahnya masing-masing. “Kita bisa karena bersama,” menjadi semangat utama ISBAT. Tidak ada syarat khusus untuk bergabung, kecuali niat tulus untuk melestarikan seni budaya Betawi Tenabang dalam bingkai persaudaraan atau ukhuwah.

Perjalanan ISBAT tidak selalu mudah. Suka dan duka, keterbatasan biaya, hingga tantangan zaman telah dilalui dengan kesabaran. Mereka aktif bekerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta, tampil dalam berbagai acara pernikahan, milangkala, serta kegiatan budaya di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Harapan ke depan, dukungan melalui program CSR dapat semakin menguatkan langkah pelestarian budaya ini. Tulisan ini ditutup sebagaimana manzhum Guru Datuk Abdul Mujib, “Mula dengan Bismillah, sudah Alhamdulillah, Sholawat bacakanlah, salam di Rosulillah.” Tenabang, 5 Ramadhan 1447 H / 23 Februari 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....