Nandong, Syair Penyelamat Tsunami yang Kini Malah Dibully 'Kampungan'
- 17 Jul 2026 17:23 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Nandong merupakan tradisi lisan khas Simeulu yang lahir pasca-bencana tsunami tahun 1907. Pada masa itu, keterbatasan alat komunikasi membuat para tetua dan pemangku adat memutar otak untuk menyampaikan pesan edukasi bencana. Mereka akhirnya melahirkan Nandong, sebuah seni melantunkan syair yang diiringi oleh ketukan gendang khusus. Tujuannya, melalui media nyanyian, pesan moral dan instruksi keselamatan menjadi lebih mudah diingat oleh masyarakat.
Fungsi nandong terbukti secara nyata pada tsunami Desember 2004. Ketika air laut surut pasca-gempa, mereka teringat akan lirik-lirik dalam syair Nandong tentang Smong. Maka, mereka langsung berlari menyelamatkan diri ke daratan tinggi. Alhasil, korban jiwa di Siemelue tercatat sangat minim dibandingkan wilayah Aceh lainnya.
Namun, di era modern ini saat ini, pelestarian Nandong mengalami kendala terutama di daerah perkotaan. Generasi muda yang ingin melestarikan Nandong kerap menjadi korban bullying karena dianggap kuno dan kampungan. M. Haikal Fahmi, Sekretaris Umum PD PII Simeulue, membagikan realitas pahit yang terjadi di sekolahnya.
“Di sekolah saya, kami punya program muatan lokal untuk kesenian tradisional seperti Nandong dan Rapai. Tapi, siswa yang bergabung ke situ dikucilkan oleh teman-teman lain karena dianggap seleranya kampungan,” ungkapnya dalam dialog Cek Cerita Kamu “Nandong Tapi Dibully Salah Gak Sih?” bersama RRI Pro 2 Banda Aceh,
Akibat dari pembullyan ini, minat generasi muda di wilayah perkotaan untuk mempelajari Nandong semakin menipis, berbeda dengan wilayah pedesaan yang kearifan lokalnya yang masih kental.
Menghadapi tantangan ini, dukungan dari orang tua dan tindakan tegas dari pihak sekolah berupa sanksi bagi pelaku bullying sebagai perlindungan psikologis remaja. Selain itu, inovasi di era digital juga sangat perlu agar Nandong tetap relevan di mata Gen Z.
Sudah saatnya generasi muda Simeulue dan Aceh memandang Nandong bukan sebagai tradisi kuno, melainkan sebagai warisan yang menyelamatkan peradaban. Diperlukan sinergi dari pemangku adat agar lebih aktif merangkul anak muda dan diharapkan bagi pemerintah daerah dalam memperbanyak panggung kompetisi kesenian tradisional di tingkat sekolah untuk memicu antusiasme positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....