Fenomena "Cowok Bingung" Dipengaruhi Gaya Kelekatan hingga Trauma Masa Lalu
- 16 Jul 2026 08:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena "cowok bingung" yang ramai di media sosial tidak sekadar menjadi istilah populer, tetapi juga berkaitan dengan faktor psikologis. Hal itu dijelaskan oleh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Yoza Okta Saputra, M.Psi., dalam dialog Jaga Malam Curhatnya Pro 2, Selasa (14/07/26).
Dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh pola kelekatan, kematangan emosi, hingga pengalaman traumatis di masa lalu. Fenomena ini merujuk pada laki-laki yang memberikan perhatian layaknya pasangan, tetapi enggan memberikan kepastian dalam hubungan.
"Fenomena cowok bingung ini merujuk pada laki-laki yang memberikan perhatian kepada perempuan layaknya pasangan, tetapi tidak memberikan kepastian dalam hubungan," ujarnya.
Menurut Yoza, perilaku tersebut dapat dikaitkan dengan teori attachment atau gaya kelekatan, khususnya tipe avoidant attachment. Individu dengan tipe ini cenderung menjauh ketika hubungan mulai mengarah pada komitmen yang lebih serius.
| Baca juga: Bijak Bermedia Sosial demi Kesehatan Mental |
Selain dipengaruhi oleh ketidakmatangan emosi (emotional immaturity), kondisi tersebut juga dapat dipicu oleh pengalaman masa lalu. Misalnya, perceraian orang tua, hubungan yang toksik, atau kegagalan dalam menjalin hubungan sebelumnya.
Yoza menambahkan, tidak semua laki-laki yang tampak ragu memiliki masalah komitmen. Menurutnya, seseorang yang memang sedang berada dalam fase kebingungan biasanya tetap mau berdiskusi secara terbuka dengan pasangannya mengenai alasan di balik keraguannya.
Tekanan budaya turut memengaruhi cara laki-laki mengekspresikan emosi. Anggapan bahwa laki-laki harus selalu tegar dan tidak boleh menunjukkan kerentanan membuat sebagian orang memilih memendam perasaan dibanding mengungkapkannya secara terbuka.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak langsung memberi label negatif terhadap seseorang yang terlihat ragu dalam menjalin hubungan. Menurutnya, memahami akar persoalan jauh lebih penting agar solusi yang diberikan dapat tepat sasaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....