Fakta Medis di Balik Loneliness Epidemic: Kesepian Bukan Sekadar Perasaan
- 12 Jun 2026 13:26 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Di era notifikasi nggak pernah berhenti, "Loneliness Epidemic" jadi istilah resmi. WHO membentuk Komisi Sosial Koneksi tahun 2023 karena 1 dari 4 orang di dunia merasa sepi parah. Ironisnya, ini terjadi pas kita punya 1000 teman online.
Bahaya medis di balik fenomena kesepian atau loneliness epidemic menjadi topik utama dalam siaran Obrolan Seputar Kesehatan Pro 2 RRI Purwokerto, bersama dr. Arfelina Sugiarto yang mengupas tuntas tentang "Fakta Medis di Balik Loneliness Epidemic".
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dampak medisnya yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental. Dalam paparannya, dr. Ina menjelaskan bahwa kesepian adalah sebuah perasaan kompleks yang perlu dikenali sejak dini.
"Lonely itu satu perasaan yang kompleks. Biasanya memang kita harus tanya pada diri sendiri dulu, 'kenapa ya aku merasa seperti ini? Aku sudah sampai di batas mana? Apakah aku memang lonely atau memang lagi capek?,” ujar dr. Ina.
Menurut dr. Ina kesepian tidak boleh dianggap sepele, terutama jika sudah mencapai tahap kronis. Gejala-gejala seperti tidur tidak nyenyak, kehilangan nafsu makan, enggan bersosialisasi, hingga hanya ingin berbaring seharian menjadi sinyal bahaya yang patut diwaspadai.
"Ada banyak studi yang menyebutkan bahwa kesepian yang kronis itu bisa mengakibatkan depresi, kemudian sakit jantung juga," tegasnya.
Ia memaparkan mekanisme di baliknya. Saat seseorang merasa kesepian, pikirannya cenderung dipenuhi hal-hal negatif secara terus-menerus. Kondisi ini memicu pelepasan hormon stres yang dapat menyebabkan inflamasi atau peradangan dalam tubuh dan mendukung terbentuknya plak di pembuluh darah.
"Tapi pada orang-orang yang kesepian kronis dan lama, dan ada sedikit bibit-bibit depresi, sedentary lifestyle (gaya hidup minim gerak) jauh lebih berbahaya," tambahnya, menyoroti kombinasi fatal antara kondisi mental dan kurangnya aktivitas fisik.
Meskipun semua usia bisa merasakan kesepian, dr. Ina menekankan bahwa kelompok usia kerja dan lansia tercatat sebagai yang paling banyak mengalaminya.
Sebagai penutup, ia berpesan agar masyarakat dapat mengenali dan mengelola perasaan ini sebelum berdampak buruk. “Jangan sampai hal-hal yang seperti ini menghalangi aktivitas kita sehari-hari,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....