Invisible Disability dan Kesehatan Mental: Luka yang Tak Terlihat

  • 13 Jul 2026 08:49 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Ada luka yang tersembunyi di balik senyum. Ada perjuangan yang tidak terdengar di balik diam. Invisible disability mengajarkan kita bahwa keterbatasan tidak selalu hadir dalam kursi roda, tongkat, atau tanda fisik lainnya, melainkan kadang hidup dalam kecemasan, gangguan saraf, penyakit kronis, hingga kondisi mental yang tak kasat mata.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam dialog Pengarus Utamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto kali ini hadir bersama Dyah Woro Dwi Lestari, S.Psi., MA – Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran Unsoed yang membahas tema “Invisible Disabilitas Melihat yang Tak Kasat Mata”.

Invisible disability atau disabilitas tak kasat mata merupakan kondisi keterbatasan yang tidak selalu terlihat secara fisik, seperti gangguan kesehatan mental, penyakit kronis gangguan neurologis, hingga kondisi seperti talasemia, asma, diabetes, atau depresi. Namun, di masyarakat sendiri sering kali hanya memahami disabilitas dari sisi fisik yang tampak.

“Jadi kalau yang selama ini masyarakat ketahui yang disebut dengan disabilitas adalah kondisi yang tidak normal dalam bentuk yang bisa kita lihat gitu. Misalnya tidak bisa melihat, tidak bisa berbicara, mendengar, tapi sebenarnya yang disebut dengan disabilitas yang tidak terlihat oleh mata secara langsung misalnya kondisi-kondisi bisa berupa fisik, tapi memang tidak kelihatan atau mungkin sifatnya gangguan mental,” jelas Diyah.

Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar invisible disability adalah stigma dan kurnagnya empati masyarakat. Banyak penyandang dengan kondisi tersebut memilih menyembunyikan keadaannya karena takut mendapat label negatif.

Dalam dunia pendidikan atau pun kera, diperlukan lingkungan yang inklusif dengan membangunn empati, mendengarkan tanpa menghakimi, serta menyediakan dukungan dari institusi seperti unit layanan disabilitas, konselor, maupun kebijakan yang ramah terhadap penyandang disabilitas tak terlihat.

“Yang pertama perlu dilakukan adalah mendengarkan dahulu. Mendengarkan dengan penuh empati tanpa memberikan penilaian,” jelasnya.

Dengan demikian, invisible disability merupkan kondisi keterbatasan yang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi nyata dirasakan penderitanya. Kurangnya empati dan stigma masyarakat masih menjadi tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas tak kasat mata. Karena itu, diperlukan lingkungan yang lebih inklusif, suportif, dan memahami tanpa menghakimi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....