Psikolog Soroti Star Syndrome di Era Media Sosial
- 08 Jul 2026 20:49 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat, khususnya Generasi Z, berinteraksi dan mengekspresikan diri. Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, media sosial juga memunculkan fenomena yang dikenal sebagai star syndrome, yakni kecenderungan seseorang ingin selalu menjadi pusat perhatian dan memperoleh pengakuan dari lingkungan digital.
Psikolog di Madiun, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa star syndrome bukan merupakan diagnosis dalam psikologi klinis, melainkan istilah populer yang menggambarkan perilaku seseorang yang terlalu bergantung pada perhatian dan validasi dari orang lain.
“Keinginan untuk dihargai adalah hal yang normal. Namun ketika seseorang merasa harus selalu menjadi pusat perhatian agar merasa berharga, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian,” ujarnya, kemarin.
Menurut Andi, media sosial mempercepat munculnya fenomena tersebut karena menyediakan berbagai indikator popularitas, seperti jumlah pengikut, tanda suka (likes), komentar, hingga jumlah tayangan yang dapat dilihat secara langsung.
“Platform digital memberikan umpan balik secara instan. Ketika seseorang memperoleh banyak respons positif, muncul dorongan untuk terus mengulang perilaku yang sama demi mempertahankan perhatian publik,” jelasnya.
Ia menambahkan, Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi lebih akrab dengan budaya berbagi aktivitas sehari-hari di media sosial. Jika tidak disertai kemampuan mengelola diri, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan terhadap validasi digital.
“Masalahnya bukan pada media sosialnya, melainkan ketika identitas dan rasa percaya diri mulai ditentukan oleh respons orang lain di dunia maya,” tambah Andi.
Menurutnya, star syndrome dapat ditandai dengan keinginan untuk selalu tampil sempurna, merasa kecewa ketika unggahan tidak mendapat perhatian yang diharapkan, sulit menerima kritik, hingga terus membandingkan diri dengan pengguna media sosial lainnya.
“Perbandingan sosial yang terjadi setiap hari dapat membuat seseorang merasa kurang puas terhadap dirinya sendiri, meskipun sebenarnya ia memiliki banyak potensi,” katanya.
Andi menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental apabila berlangsung dalam waktu lama. Individu berisiko mengalami kecemasan, overthinking, menurunnya rasa percaya diri, hingga kelelahan emosional akibat terus berusaha memenuhi ekspektasi publik.
Untuk itu, ia mengajak Generasi Z agar menggunakan media sosial secara lebih sehat dengan menjadikannya sebagai sarana belajar, berkarya, dan membangun relasi, bukan semata-mata mengejar popularitas.
“Berkaryalah karena memang ingin berkembang dan berbagi manfaat, bukan hanya untuk mendapatkan perhatian. Ketika motivasi berasal dari diri sendiri, seseorang akan lebih mudah merasa puas dengan proses yang dijalani,” tegasnya.
Andi juga mengingatkan pentingnya membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada jumlah pengikut maupun respons di media sosial. Menurutnya, penghargaan terhadap diri sendiri harus dibangun melalui kemampuan, karakter, dan pengalaman hidup.
“Popularitas di media sosial bisa datang dan pergi. Namun karakter, kemampuan, dan nilai diri akan menjadi bekal yang jauh lebih penting dalam kehidupan nyata,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....