Psikolog Ingatkan Bahaya Star Syndrome bagi Generasi Muda

  • 08 Jul 2026 20:51 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Di era media sosial, keinginan untuk dikenal dan mendapat perhatian menjadi hal yang semakin umum, terutama di kalangan generasi muda. Namun, psikolog mengingatkan bahwa dorongan untuk selalu menjadi pusat perhatian atau yang kerap disebut star syndrome dapat membawa dampak negatif apabila tidak disikapi secara bijak.

Psikolog di Madiun, Andi Cahyadi menjelaskan bahwa star syndrome bukan merupakan diagnosis dalam psikologi, melainkan istilah populer yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus mencari pengakuan dan validasi dari orang lain hingga memengaruhi cara berpikir maupun perilakunya.

“Keinginan untuk diapresiasi adalah kebutuhan manusia yang wajar. Yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang merasa dirinya hanya berharga jika mendapat perhatian atau pengakuan dari lingkungan,” ujarnya, kemarin.

Menurut Andi, fenomena tersebut semakin mudah berkembang di era digital karena media sosial menyediakan ruang bagi setiap orang untuk menunjukkan aktivitas, pencapaian, hingga kehidupan pribadinya kepada publik. Di sisi lain, berbagai indikator seperti jumlah likes, komentar, dan pengikut sering kali dijadikan ukuran keberhasilan.

“Ketika seseorang mulai mengukur nilai dirinya dari respons di media sosial, ia akan lebih rentan mengalami kekecewaan ketika ekspektasinya tidak terpenuhi,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu bahaya star syndrome adalah munculnya ketergantungan terhadap validasi eksternal. Akibatnya, generasi muda dapat kehilangan kepercayaan diri ketika perhatian dari orang lain berkurang atau ketika melihat orang lain lebih populer.

“Jika terus bergantung pada penilaian orang lain, seseorang akan sulit merasa cukup. Akan selalu ada keinginan untuk mendapatkan perhatian yang lebih besar,” tambah Andi.

Selain itu, star syndrome juga dapat mendorong seseorang lebih fokus membangun citra dibanding mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, overthinking, rasa iri, hingga kelelahan emosional akibat terus berusaha memenuhi ekspektasi publik.

Menurut Andi, tidak sedikit generasi muda yang akhirnya merasa tertekan karena terus membandingkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidupnya dengan orang lain di media sosial.

“Perbandingan sosial yang dilakukan terus-menerus dapat membuat seseorang lupa menghargai proses dan potensi yang dimilikinya sendiri,” katanya.

Untuk mencegah hal tersebut, Andi mengajak generasi muda membangun rasa percaya diri yang berlandaskan pada kemampuan, karakter, dan pengalaman hidup, bukan semata-mata pada popularitas atau jumlah pengikut di media sosial.

Ia juga menekankan pentingnya menggunakan media sosial secara sehat, yakni sebagai sarana belajar, berkarya, dan membangun jejaring, bukan sebagai tolok ukur harga diri.

“Popularitas bukan tujuan utama dalam hidup. Yang lebih penting adalah menjadi pribadi yang terus berkembang, memiliki kompetensi, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” tegasnya.

Andi berharap keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar turut berperan dalam membangun karakter generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh budaya validasi instan di media sosial.

“Ketika seseorang mengenal dirinya dengan baik, ia tidak akan mudah mencari pengakuan secara berlebihan. Ia akan lebih fokus pada proses bertumbuh daripada sekadar menjadi pusat perhatian,” sebutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....