Psikolog Jelaskan Fenomena Star Syndrome pada Gen Z

  • 08 Jul 2026 20:47 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Fenomena star syndrome semakin sering diperbincangkan di kalangan Generasi Z, terutama seiring pesatnya perkembangan media sosial. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang yang ingin menjadi pusat perhatian, memperoleh pengakuan, dan merasa dirinya harus selalu tampil menonjol di hadapan orang lain.

Psikolog di Madiun, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa star syndrome bukan merupakan diagnosis psikologis, melainkan istilah populer yang menggambarkan pola perilaku tertentu. Menurutnya, fenomena ini dapat muncul ketika kebutuhan seseorang untuk mendapatkan perhatian dan validasi menjadi terlalu dominan.

“Pada dasarnya setiap orang ingin dihargai dan diakui. Namun, ketika kebutuhan itu menjadi berlebihan hingga memengaruhi cara berpikir dan berperilaku, hal tersebut perlu disikapi dengan bijak,” ujarnya, kemarin.

Menurut Andi, Generasi Z lebih rentan mengalami fenomena tersebut karena tumbuh di era digital yang memungkinkan setiap orang menampilkan kehidupan dan pencapaiannya kepada publik melalui media sosial.

“Media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk memperoleh perhatian. Hal ini bisa menjadi hal yang positif jika dimanfaatkan untuk berkarya, tetapi juga dapat memicu keinginan untuk terus mencari pengakuan,” jelasnya.

Ia menambahkan, star syndrome dapat terlihat dari keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian dalam pergaulan, merasa kecewa ketika tidak mendapatkan respons sesuai harapan, atau terlalu bergantung pada jumlah likes, komentar, maupun jumlah pengikut di media sosial.

“Ketika penghargaan terhadap diri sendiri hanya bergantung pada respons orang lain, seseorang akan lebih mudah merasa tidak puas dan kehilangan rasa percaya diri,” tambah Andi.

Dari sisi psikologis, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kecemasan, overthinking, hingga rasa iri ketika melihat pencapaian orang lain. Dalam jangka panjang, individu juga dapat mengalami kesulitan menerima kritik dan lebih fokus membangun citra daripada mengembangkan kemampuan diri.

Meski demikian, Andi menegaskan bahwa memiliki keinginan untuk tampil atau menunjukkan prestasi bukanlah sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah motivasi di balik perilaku tersebut.

“Jika seseorang berkarya karena ingin berkembang dan memberikan manfaat, itu merupakan hal yang positif. Namun, jika tujuan utamanya hanya untuk mendapatkan validasi, maka perlu ada evaluasi terhadap cara memandang diri sendiri,” katanya.

Untuk mencegah star syndrome, Andi menyarankan generasi muda membangun rasa percaya diri yang berasal dari kemampuan, proses belajar, dan nilai-nilai yang dimiliki, bukan semata-mata dari pengakuan orang lain. Ia juga mengajak Gen Z menggunakan media sosial secara bijak tanpa terus membandingkan diri dengan pengguna lain.

“Belajarlah menghargai diri sendiri tanpa harus selalu menunggu pengakuan dari lingkungan. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak perhatian yang diterimanya,” tegasnya.

Andi berharap generasi muda dapat menjadikan media sosial sebagai ruang untuk belajar, berkarya, dan membangun relasi yang sehat, bukan sebagai ukuran utama keberhasilan maupun harga diri.

“Menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada terus berusaha menjadi pusat perhatian. Ketika seseorang mengenal dan menerima dirinya, ia akan lebih mudah berkembang tanpa terbebani oleh penilaian orang lain,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....