Psikolog Ungkap Penyebab Star Syndrome di Kalangan Gen Z

  • 08 Jul 2026 20:48 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Fenomena star syndrome semakin sering dikaitkan dengan gaya hidup Generasi Z di era media sosial. Keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian, mendapatkan pengakuan, hingga tampil lebih menonjol dibanding orang lain dinilai semakin mudah terlihat melalui berbagai platform digital.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa star syndrome bukan merupakan gangguan psikologis, melainkan istilah populer yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus mencari perhatian dan validasi dari lingkungan. Menurutnya, perilaku tersebut muncul karena berbagai faktor psikologis dan sosial yang saling memengaruhi.

“Pada dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan untuk dihargai. Namun ketika kebutuhan itu menjadi berlebihan dan bergantung pada penilaian orang lain, maka perilaku tersebut dapat berkembang menjadi kecenderungan star syndrome,” ujarnya, kemarin.

Menurut Andi, salah satu penyebab utama adalah perkembangan media sosial yang memungkinkan setiap orang memperoleh perhatian secara cepat melalui jumlah likes, komentar, jumlah pengikut, hingga konten yang viral.

“Media sosial memberikan sistem penghargaan yang instan. Ketika seseorang terus-menerus mendapatkan respons positif, muncul dorongan untuk mengulang perilaku yang sama agar tetap menjadi pusat perhatian,” jelasnya.

Selain itu, Andi menilai proses pencarian jati diri yang masih berlangsung pada usia remaja hingga dewasa muda juga menjadi faktor penting. Pada fase ini, Gen Z cenderung ingin mengetahui bagaimana dirinya dipandang oleh lingkungan.

“Keinginan untuk diterima dan diakui merupakan bagian dari perkembangan psikologis. Namun, jika seluruh rasa percaya diri bergantung pada pengakuan orang lain, hal itu dapat menjadi masalah,” tambahnya.

Ia juga menyoroti budaya perbandingan sosial yang semakin kuat di era digital. Melihat pencapaian, gaya hidup, maupun popularitas orang lain setiap hari dapat memunculkan keinginan untuk tampil lebih menonjol agar tidak merasa tertinggal.

“Tanpa disadari, seseorang mulai membangun citra diri demi mendapatkan perhatian, bukan lagi karena ingin menjadi dirinya sendiri,” katanya.

Menurut Andi, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar. Budaya yang terlalu mengagungkan popularitas, jumlah pengikut, atau status viral dapat membuat sebagian anak muda menganggap perhatian publik sebagai ukuran keberhasilan.

Dari sisi psikologis, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan ketika perhatian mulai berkurang, sulit menerima kritik, hingga muncul rasa kecewa apabila ekspektasi terhadap respons orang lain tidak terpenuhi.

Untuk itu, Andi menyarankan agar generasi muda membangun rasa percaya diri yang berasal dari kemampuan, karakter, dan proses pengembangan diri, bukan semata-mata dari validasi di media sosial.

“Pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan harga diri,” tegasnya.

Ia juga mengajak orang tua dan pendidik untuk membantu generasi muda memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh popularitas di dunia digital. Dukungan lingkungan yang positif dinilai dapat membantu Gen Z membangun identitas diri yang lebih sehat.

“Yang perlu dikejar bukan sekadar menjadi terkenal, tetapi menjadi pribadi yang terus bertumbuh, memiliki kemampuan, dan memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....