Membangun Budaya Srawung Melalui Akhlak Mulia Menurut Islam
- 03 Jul 2026 15:11 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Saling menghormati, menjauhi prasangka buruk, serta memperkuat tali persaudaraan merupakan pondasi utama dalam membangun interaksi sosial yang harmonis dan bermartabat. Ustaz K.H. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A., dalam kajian Mutiara Pagi bertajuk Srawung Kanthi Mulyaning Akhlak Bagian 4 yang disiarkan di Pro 1 Purwokerto, pada Senin, (29/6/2026), menegaskan bahwa Islam mengajarkan bahwa hubungan baik antar manusia atau srawung bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian integral dari kesempurnaan iman seseorang.
Ia memaparkan sejumlah tuntunan praktis dari Rasulullah SAW untuk menciptakan pergaulan yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Ustaz Mintaraga, langkah paling mendasar dalam membina keakraban adalah dengan merutinkan kebiasaan bersalaman secara tulus saat bertemu.
Di dalam Islam, tindakan sederhana ini bernilai ibadah yang besar dan dapat menggugurkan dosa-dosa di antara sesama muslim, bukan sekadar sebuah formalitas basa-basi. Ia juga menyoroti larangan keras terhadap perilaku tercela seperti gemar menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah), serta mencari-cari kesalahan orang lain.
"Dalam agama kita, salaman justru menjadi ibadah, coba masyaallah. Itu bahkan punya keutamaan yang besar, kalau dua orang bertemu bersalaman, dosa diantara keduanya diampuni," ujarnya.
Merujuk pada Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 12, ia mengingatkan bahaya laten dari penyakit hati seperti rasa dengki dan berburuk sangka (suudzon). Perilaku mengekspos kekurangan orang lain di muka umum dapat menghabiskan pahala kebaikan yang telah dikumpulkan di dunia.
"Maka hati-hati nih, ghibah itu kayaknya sudah menjadi komoditas nasional, nauzubillah. Padahal satu muslim dengan muslim yang lain itu kan haram darah dan kehormatannya," tegasnya.
Aspek krusial lain yang turut diulas dalam kajian ini adalah pentingnya menjaga tata krama antargenerasi, yakni antara kelompok yang lebih tua dan yang lebih muda. Konflik sosial kerap kali pecah akibat hilangnya rasa saling menghargai.
Islam secara tegas mewajibkan kelompok usia muda untuk menghormati orang tua, sebaliknya kelompok yang tua dituntut untuk mengayomi dan menyayangi generasi muda dengan bijaksana. Tak hanya itu, Ustadz Mintaraga mengimbau umat muslim untuk senantiasa bersyukur dan ikhlas ketika dipercaya memegang peran kebaikan di lingkungannya, seperti saat ditunjuk memimpin doa atau mengelola kegiatan sosial, serta keikhlasan, fokus, dan transparansi yang merupakan kunci utama dalam menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....