Akademisi UMP Ajak Umat Lakukan Hijrah Digital

  • 26 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam diajak untuk merefleksikan makna hijrah tidak sebatas pada perpindahan fisik atau geografis semata. Di era kecanggihan teknologi saat ini, transformasi perilaku dalam memanfaatkan ruang siber atau "hijrah digital" dinilai menjadi kebutuhan mendesak demi membentuk karakter muslim yang cerdas, bijak, dan bertanggung jawab.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Bidang PALM Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), M. Alfian Nurul Azmi, M.Sos., dalam program dialog Tasbih di Pro 2 Purwokerto, Jumat (19/06/2026). Alfian memaparkan, berdasarkan data per Januari 2026, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia telah menembus angka 180 juta identitas atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi penduduk.

Tingginya penetrasi digital ini memicu keterbukaan informasi yang luar biasa, namun sekaligus membawa tantangan serius seperti maraknya selebaran hoax, disinformasi, hingga konten destruktif. Menurutnya, bekal utama untuk memulai langkah tersebut adalah dengan memperkuat literasi digital yang diimbangi dengan kokohnya akidah dan akhlak.

"Hijrah digital di sini adalah dimaknai sebagai upaya keluar dari gaya hidup kita yang serba digital yang pasif, yang konsumtif, yang destruktif, dan menuju gaya hidup yang produktif, selektif, dan penuh integritas," ujar Alfian.

Pemahaman tersebut krusial agar individu memiliki benteng moral yang kuat ketika berselancar di dunia maya, termasuk dalam menyikapi algoritma media sosial yang cenderung merekam dan mendikte preferensi pengguna. Lebih lanjut, Alfian mengingatkan para generasi muda untuk lebih berhati-hati dalam membangun dan merawat jejak digital.

Fenomena flexing (pamer) atau berburu validasi di media sosial harus segera dikurangi melalui metode detoksifikasi digital. Apalagi, dunia profesional saat ini kerap menjadikan rekam jejak digital sebagai salah satu instrumen utama dalam penyaringan (screening) calon karyawan.

"Perusahaan-perusahaan sekarang, ketika kita mendaftar memasukkan CV di perusahaan tersebut, mereka tidak hanya sekedar membaca visi secara tertulis atau soft. Kadang kita diminta untuk mencantumkan sosial media kita, maka itu akan di-tracking oleh perusahaan," jelasnya.

Sebagai solusinya, Alfian mendorong para kreator konten dan pengguna internet muslim untuk mengalihkan pemanfaatan teknologi sebagai sarana dakwah dan edukasi yang berkemajuan. Ruang digital harus dipandang sebagai mimbar baru yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikan secara luas dan inklusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....