Hakikat Doa, antara Lisan dan Hati
- 25 Feb 2026 10:24 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Doa merupakan inti dari ibadah dan jembatan komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Illahi. Namun, sering kali doa yang dipanjatkan terasa hambar atau hanya menjadi rutinitas lisan tanpa disertai pemahaman yang mendalam. Beberapa kisah nabi juga dapat dijadikan suri tauladan, seperti kisah Nabi Adam a.s salah satunya.
Dalam dialog Café Ramadan Pro 2, hadir Itsna Nurahma Mildaeni, S.E.I., M.A dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), yang menyoroti pentingnya menghadirkan hati dan pikiran saat memohon kepada Allah SWT, agar doa tidak hanya serangkaian kata yang tidak bermakna.
Istilah “Doa Tanpa Makna” merujuk pada keadaan seseorang yang berdoa namun tidak memahami apa yang diucapkannya, atau tidak merasakan urgensi dari permohonan itu.
“Pemaknaan doa sangat berpengaruh terhadap ketenangan batin dan keyakinan terkabulnya doa tersebut. Ketika seseorang memahami setiap kata dalam doanya, maka akan merasakan kedekatan emosional dan sprititual yang lebih kuat.” jelasnya.
Kualitas doa tidak hanya diukur dari panjang atau indahnya susunan kalimat, melainkan dari ketulusan hati. Berdoa dengan kesadaran penuh dapat membantu kita untuk lebih bersabar dan tawakal dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Dengan memperbaiki kualitas doa dari yang sebelumnya tidak ada makna kemudian menjadi doa yang penuh dengan penghayatan, umat Muslim diharapkan bisa meraih keberkahan hidup yang lebih sempurna. (Khofifah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....