Siraman Ruwatan, Tradisi Leluhur yang Tetap Relevan di Tengah Perkembangan Zaman
- 23 Jun 2026 10:18 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Tradisi siraman ruwatan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meski zaman terus berkembang dan modernisasi semakin kuat memengaruhi pola pikir masyarakat, ritual yang sarat nilai budaya dan spiritual tersebut dinilai tetap memiliki relevansi sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.
Hal itu dibahas dalam program Ngobras (Ngobrol Bareng Komunitas) Pro 1 RRI Madiun yang mengangkat tema “Siraman Ruwatan”, menghadirkan narasumber Ki Purwinarto, Suwondo, dan Cornelius Djoko Saptono. Ketiga narasumber membahas makna, filosofi, hingga posisi tradisi ruwatan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Ki Purwinarto menjelaskan bahwa ruwatan merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa. Secara filosofis, ruwatan dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari berbagai hal negatif, baik yang berkaitan dengan batin, perilaku, maupun perjalanan hidup seseorang.
Menurutnya, prosesi siraman dalam ruwatan bukan sekadar kegiatan menyiramkan air kepada seseorang, tetapi memiliki makna simbolis sebagai penyucian diri. Air yang digunakan biasanya berasal dari beberapa sumber mata air yang dianggap memiliki nilai filosofis, kemudian dirangkai dalam prosesi yang penuh doa dan harapan.
“Ruwatan pada dasarnya adalah sarana introspeksi dan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang terpenting bukan ritualnya semata, tetapi nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya,” ujar Ki Purwinarto, beberapa waktu lalu di studio RRI Madiun.
Ia menambahkan, dalam tradisi Jawa dikenal berbagai bentuk ruwatan yang dilakukan sesuai kebutuhan dan latar belakang seseorang. Namun, esensi utamanya tetap sama, yakni memohon keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, Suwondo menyoroti pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Menurutnya, keberadaan tradisi seperti siraman ruwatan tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan perkembangan zaman, melainkan sebagai kekayaan budaya yang perlu dipahami secara utuh.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial dan kebersamaan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul, saling mendoakan, dan mempererat hubungan sosial,” katanya.
Suwondo menilai, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna filosofis sebuah tradisi. Banyak orang hanya melihat prosesi luarnya tanpa memahami pesan moral yang diwariskan oleh para leluhur.
Karena itu, edukasi mengenai nilai budaya menjadi penting agar masyarakat dapat memandang tradisi secara lebih bijak dan proporsional.
Pandangan serupa disampaikan Cornelius Djoko Saptono. Ia menjelaskan bahwa tradisi ruwatan perlu dilihat dari perspektif budaya dan kearifan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad.
Menurut Cornelius, tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya yang mencerminkan cara masyarakat Jawa membangun harmoni antara manusia, lingkungan, dan nilai-nilai spiritual yang diyakini.
| Baca juga: SMPN 9 Madiun Juara 2 Musik Tradisi FLS3N |
“Budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai yang baik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Ruwatan menjadi salah satu media untuk menjaga kesinambungan nilai tersebut,” ujarnya.
Cornelius juga menekankan pentingnya dokumentasi dan ruang dialog publik untuk memperkenalkan kembali tradisi-tradisi lokal kepada masyarakat luas. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu, para narasumber sepakat bahwa siraman ruwatan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan mengandung pesan moral, sosial, dan spiritual yang masih relevan hingga saat ini. Tradisi tersebut menjadi pengingat pentingnya membersihkan diri, memperbaiki perilaku, mempererat hubungan sosial, serta menjaga keseimbangan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....