Festival Bhumi Ngurawan Jadi Ruang Merawat Ingatan Budaya dan Sejarah Madiun

  • 04 Jul 2026 08:34 WIB
  •  Madiun
Poin Utama
  • Festival Bhumi Ngurawan 2026 menghadirkan ruang refleksi tentang pentingnya menjaga sejarah, identitas budaya, dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan melalui kegiatan Jagongan Budaya di Madiun.

RRI.CO.ID, Madiun- Festival Bhumi Ngurawan 2026 tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi tentang pentingnya menjaga sejarah, identitas budaya, dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Melalui kegiatan Jagongan Budaya bertajuk Menyingkap Tabir Ngurawan: Sinergi Pelestarian Sejarah, Identitas Budaya, dan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Madiun. Berbagai elemen masyarakat diajak memaknai kembali hubungan antara warisan leluhur dengan kehidupan masa kini.

Penulis Fileski Walidha Tanjung menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya berfokus pada benda-benda bersejarah, melainkan juga pada nilai dan kesadaran yang menyertainya.

"Peradaban yang besar dibangun oleh kemampuannya berdialog dengan ingatan. Sejarah bukan sesuatu yang tertinggal di belakang kita, tetapi terus berjalan berdampingan dengan kehidupan hari ini," ujar Fileski dalam Jagongan Budaya Festival Bhumi Ngurawan beberapa waktu lalu.

Menurutnya, situs-situs bersejarah seperti Ngurawan memiliki nilai lebih dari sekadar peninggalan fisik. Batu-batu yang berada di kawasan tersebut menjadi saksi perjalanan peradaban sekaligus menyimpan memori kolektif masyarakat. Karena itu, pelestarian harus diarahkan pada upaya menjaga makna yang terkandung di dalamnya, bukan hanya mempertahankan bentuk fisiknya.

Fileski mengungkapkan, tantangan terbesar saat ini bukan semata ancaman terhadap situs sejarah, tetapi berkurangnya kemampuan masyarakat untuk memahami dan menafsirkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

"Di era digital, masyarakat semakin mudah mengabadikan sebuah tempat melalui kamera. Namun, yang tidak kalah penting adalah membangun dialog dengan makna yang tersimpan di balik tempat tersebut," katanya.

Ia menambahkan, konsep pariwisata berkelanjutan semestinya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pariwisata juga harus menjadi sarana pendidikan budaya yang mampu menghadirkan pengalaman reflektif bagi setiap pengunjung.

"Perjalanan akan menjadi bermakna ketika seseorang pulang membawa kesadaran baru, bukan hanya koleksi foto yang bertambah," imbuhnya.

Jagongan Budaya turut menghadirkan sejumlah tokoh yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya, di antaranya perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Ahmad Tedy Basuki, Ketua Lesbumi Kabupaten Madiun Gus Ibnu Huda, serta Kepala RRI Madiun Kukuh Setyo Budi Akhrianto. Diskusi dipandu oleh Ahmad Rosyidin sebagai moderator.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, media, hingga masyarakat.

Festival Bhumi Ngurawan juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal. Penampilan musik etnik Jatiswara Progresif menghadirkan harmoni tradisi melalui bunyi-bunyian khas Nusantara, sementara Samroh El Fata dari PR Fatayat NU Ngrawan memperlihatkan kuatnya nilai spiritual yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Fileski Walidha Tanjung juga menampilkan monolog berjudul Suara dari Batu-Batu bersama Dian Widyawati dan Ismi Ismiyati dari Jaringan Kebudayaan Madiun. Pertunjukan tersebut mengajak penonton merefleksikan kembali hubungan manusia dengan sejarah dan warisan budaya.

Menurut Fileski, monolog tersebut bukan sekadar menceritakan masa lalu, tetapi menjadi media untuk menghidupkan kembali pesan-pesan kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur.

Ia berharap Festival Bhumi Ngurawan dapat terus menjadi ruang edukasi budaya sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa pelestarian bukan hanya menjaga situs bersejarah, tetapi juga merawat nilai-nilai yang membentuk jati diri bangsa.

"Semakin kita mengenali akar budaya, semakin besar peluang kita membangun masa depan yang memiliki arah. Jangan sampai yang hilang bukan hanya situs sejarah, tetapi juga kepekaan kita untuk mendengarkan pesan-pesan yang diwariskan oleh para leluhur," pungkas Fileski.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....