Perilaku Humble Bragging di Era Media Sosial
- 23 Jun 2026 08:34 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena flexing di media sosial kini tidak selalu ditampilkan secara terang-terangan, melainkan sering dikemas dalam bentuk yang lebih halus atau dikenal sebagai humble bragging. Perilaku ini dibahas dalam Program Curhatnya Pro 2 dengan narasumber Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Nia Anggri Noveni, S.PSi., M.A., pada Selasa (02/06/26).
Dalam budaya kolektif seperti di Indonesia, perilaku ini muncul sebagai cara seseorang menyeimbangkan kebutuhan akan pengakuan sosial dengan norma kesopanan yang menjunjung rendah hati. Nia juga menjelaskan bahwa humble bragging merupakan bentuk presentasi diri yang dibungkus dengan ungkapan merendah, namun tetap bertujuan menunjukkan pencapaian.
“Dalam budaya kita yang kolektif, orang cenderung tidak bisa secara terang-terangan memamerkan pencapaian. Akhirnya muncul humble bragging, yaitu merendah tapi sebenarnya tetap ingin mendapat pengakuan,” jelasnya.
Nia menjelaskan bahwa fenomena ini dapat dipahami melalui teori kebutuhan manusia dari Abraham Maslow, khususnya pada aspek kebutuhan harga diri (self-esteem). Kebutuhan untuk dihargai dan diakui, menurutnya, menjadi salah satu pendorong utama seseorang melakukan flexing maupun humble bragging.
Ia menambahkan bahwa media sosial menjadi ruang yang memperkuat kebutuhan individu untuk memperoleh pengakuan sosial. Menurutnya, jumlah likes, komentar, dan pengikut sering kali menjadi indikator yang memengaruhi rasa percaya diri seseorang dalam menampilkan dirinya di ruang digital.
“Ini adalah pergolakan antara kebutuhan eksistensi dan norma budaya. Seseorang ingin diakui, tapi tidak ingin dianggap sombong,” tambahnya.
Humble bragging kerap dipersepsikan tidak tulus oleh publik, yang dapat menurunkan kepercayaan sosial terhadap individu yang melakukannya. Oleh karena itu, Nia mengingatkan bahwa dalam budaya kolektif, ekspresi diri harus tetap memperhatikan dampak sosial, termasuk potensi munculnya perbandingan sosial, FOMO, hingga tekanan psikologis pada orang lain yang melihatnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....