Patahkan Stereotip Gender, Masyarakat Diajak Saling Menghargai
- 15 Mei 2026 11:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Stereotip gender masih menjadi persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pelabelan terhadap seseorang berdasarkan jenis kelamin dinilai dapat membatasi ruang gerak individu, memicu ketidakadilan, hingga berdampak pada kesehatan mental.
Hal tersebut dibahas dalam Podcast Tematik RRI Purwokerto bertema “Patahkan Stereotip Gender” bersama Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DPPKBP3A Kabupaten Banyumas, Erina Hendriati dan Dosen Psikologi UMP, Uswatun Hasanah.
Stereotip gender merupakan pelabelan terhadap karakteristik maupun peran seseorang yang cenderung bernilai negatif. Perempuan misalnya sering dianggap lemah, cengeng, atau tidak boleh memiliki pekerjaan atau melakukan sesuatu lebih besar daripada laki-laki.
“Stereotip ini adalah pelabelan terkait dengan karakteristik kemudian peran tetapi mengarah pada yang negatif-negatif, contohnya perempuan selalu dibilang lemah, perempuan makhluk yang lemah, perempuan yang suka nangis, perempuan yang cengeng,” ujar Erina Hendriati, S.H., Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DPPKBP3A Kabupaten Banyumas
Akar persoalan tersebut berasal dari budaya patriarki, media, hingga pola asuh di keluarga. Selain merugikan perempuan, stereotip juga menekan laki-laki karena dianggap harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi.
Padahal setiap individu memiliki potensi masing-masing dan perlu diberi ruang berkembang tanpa dibatasi label sosial. Setiap masyarakat perlu membangun hubungan yang saling menghargai.
“Kita ini hidup untuk berkolaborasi. Kita punya energi masing-masing dan kita punya potensi masing-masing sehingga kita bisa belajar untuk bisa sama-sama saling menghargai kemudian berani jadi diri sendiri,” ujar Uswatun Hasanah, S.Psi.,M.A, Dosen Psikologi UMP.
Melalui diskusi ini, masyarakat diajak memulai perubahan dari hal sederhana di rumah, seperti berbagi peran tanpa memandang gender serta mendukung anak tumbuh sesuai minat dan kemampuannya. Dengan begitu, stereotip gender dapat dipatahkan secara perlahan. (Dwinanda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....