Menghidupkan Kembali Jewawut, Sumber Pangan Leluhur Mandar

  • 04 Feb 2026 15:16 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju – Mirip dengan rumput liar, jewawut merupakan bahan pangan pokok alternatif yang kaya nutrisi. Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, jewawut atau yang biasa dikenal dengan tarreang adalah bagian dari sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat. Sebagai salah satu warisan pangan yang pernah menjadi sumber kehidupan leluhur Mandar, jewawut telah dikenal luas sebagai makanan pokok sebelum beras mendominasi di kawasan ini.

Jewawut tumbuh subur di lahan kering dan tidak membutuhkan banyak air. Pada masa lalu, masyarakat Mandar memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber karbohidrat utama, terutama di daerah pedalaman yang sulit menjangkau pasokan beras. Jewawut diolah menjadi beragam hidangan tradisional seperti jepa tarreang, sokkol tarreang, buras tarreang dan baye tarreang. Meskipun Nampak sederhana, bahan pangan ini memiliki banyak gizi.

Seiring perubahan zaman, eksistensi jewawut perlahan tergeser. Modernisasi pertanian, masuknya beras sebagai komoditas utama, serta minimnya generasi muda yang mengenal tanaman ini membuat jewawut semakin jarang ditanam. Banyak ladang jewawut berubah menjadi kebun lain, sementara pengetahuan tentang cara mengolahnya mulai memudar.

Padahal, di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, jewawut justru memiliki potensi besar untuk dihidupkan kembali sebagai salah satu referensi karbohidat. Tanaman ini dikenal tahan kekeringan, mudah dibudidayakan, serta kaya nutrisi seperti serat, protein, dan mineral penting. Jewawut bahkan dapat menjadi alternatif pangan sehat karena bebas gluten dan cocok untuk pola makan modern.

Menghidupkan kembali jewawut bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan lokal. Upaya ini juga membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk olahan jewawut, mulai dari tepung, camilan sehat, hingga pangan khas Mandar yang bernilai ekonomi.

Jewawut adalah pengingat bahwa leluhur Mandar telah lama memiliki kearifan dalam memanfaatkan alam untuk bertahan hidup. Mengangkat kembali pangan warisan ini berarti menjaga identitas budaya sekaligus menyiapkan solusi pangan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....