Umat Islam Harus Bangkit Kuasai Sains dan Teknologi

  • 17 Jul 2026 08:08 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tantangan besar yang harus dihadapi umat Islam di era modern. Meski ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, fakta menunjukkan banyak negara dengan mayoritas penduduk muslim masih tertinggal dalam bidang sains dan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Dr. Bukhori, M.Pd. dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak,Rabu 15 Juli 2026 yang membahas tema Umat Islam dan Tantangan Penguasaan Sains.

Menurut Ustadz Bukhori, anggapan bahwa Islam menjadi penyebab kemunduran sains merupakan pandangan yang keliru. Justru, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Surah Al-Alaq menjadi bukti bahwa Islam sejak awal memerintahkan umatnya untuk membaca, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

"Ajaran Islam tidak pernah menghambat perkembangan sains dan teknologi. Justru wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca, meneliti, berpikir, dan mengembangkan potensi manusia," ujar Ustadz Bukhori.

Ia menjelaskan, perintah Iqra' tidak hanya dimaknai sebagai membaca tulisan, tetapi juga membaca fenomena alam, kehidupan sosial, hingga melakukan penelitian ilmiah. Menurutnya, semangat tersebut menjadi fondasi utama berkembangnya ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam.

Ustadz Bukhori mengingatkan bahwa umat Islam pernah mencapai masa keemasan pada era Dinasti Abbasiyah. Saat itu lahir ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, hingga Al-Biruni yang mampu menguasai ilmu agama sekaligus sains.

"Kalau kita melihat kondisi sekarang, memang harus diakui umat Islam mengalami ketertinggalan dalam bidang sains dan teknologi. Tetapi penyebabnya bukan ajaran Islam, melainkan karena umatnya mulai meninggalkan semangat mencari ilmu yang diajarkan Al-Qur'an," katanya.

Menurutnya, rendahnya budaya membaca menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan lemahnya daya saing umat Islam dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Ia menilai, berbagai hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi masyarakat di sejumlah negara mayoritas muslim masih relatif rendah dibandingkan negara-negara maju.

Selain itu, masih adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum juga dinilai menjadi penghambat lahirnya ilmuwan muslim yang mampu menguasai berbagai disiplin ilmu.

"Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya menjadi ulama, tetapi juga saintis. Sebaliknya, ilmuwan juga perlu memiliki pemahaman agama yang baik sehingga ilmu yang dikembangkan membawa kemaslahatan," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Bukhori juga mengajak generasi muda memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan.

Menurutnya, anak muda saat ini sudah sangat dekat dengan teknologi sehingga memiliki peluang besar untuk mengembangkan kemampuan di bidang robotika, pemrograman, kecerdasan buatan (AI), hingga riset ilmiah.

"Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus mulai menciptakan inovasi sehingga mampu menjadi produsen teknologi, bukan sekadar konsumen," tegasnya.

Ia menambahkan, peran orang tua, sekolah, perguruan tinggi, dan tokoh agama sangat penting dalam membimbing generasi muda agar memanfaatkan teknologi secara produktif.

Menutup perbincangan, Ustadz Bukhori mengajak umat Islam kembali menghidupkan budaya membaca, meneliti, dan menghasilkan karya ilmiah sebagai jalan untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam.

"Kalau ingin kembali menjadi umat yang maju, kita harus menghidupkan lagi budaya literasi, budaya riset, dan semangat belajar sebagaimana diajarkan Al-Qur'an melalui perintah Iqra. Dari situlah akan lahir generasi muslim yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....