Tahun Baru Islam Saatnya Muhasabah dan Hijrah
- 15 Jun 2026 16:08 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Menjelang datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada 16 Juni 2026, masyarakat diajak menjadikan pergantian tahun Islam sebagai momentum introspeksi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Akademisi dan dai Kalimantan Barat, Ustadz Qomaruzzaman, mengatakan bahwa tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan pengingat bahwa usia manusia semakin berkurang dan semakin dekat dengan batas akhir kehidupan.
"Pergantian tahun bukan berarti jatah hidup kita bertambah panjang, melainkan usia kita berkurang dan membawa kita semakin dekat kepada kematian. Karena itu, Muharram harus menjadi momentum muhasabah dan evaluasi diri," ujarnya dalam Acara Mutiara Pagi, RRI Pro 1 Pontianak, Jum’at, 12 Juni 2026.
Menurutnya, penanggalan Hijriah memiliki sejarah panjang yang berawal pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, kebutuhan akan sistem penanggalan muncul karena adanya sengketa utang-piutang yang tidak mencantumkan tahun jatuh tempo secara jelas.
"Dalam musyawarah para sahabat, Sayidina Ali mengusulkan agar awal kalender Islam dihitung dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Usulan itu kemudian diterima dan menjadi dasar penanggalan Hijriah hingga saat ini," jelasnya.
Ia menerangkan bahwa Muharram termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam yang memiliki banyak keutamaan. Nama Muharram sendiri berarti bulan yang diharamkan untuk melakukan peperangan dan pertumpahan darah.
Selain menjadi awal tahun Islam, Muharram juga dikenal dengan peristiwa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Menurut berbagai riwayat, tanggal tersebut menjadi saksi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah para nabi.
"Di bulan Muharram terdapat banyak peristiwa besar yang menjadi pelajaran bagi umat Islam. Karena itu Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya memperbanyak ibadah dan puasa sunnah pada bulan ini," katanya.
Terkait tradisi masyarakat yang menganggap Muharram sebagai bulan yang tidak baik untuk menikah atau menggelar hajatan, Ustadz Qomaruzzaman menegaskan bahwa keyakinan tersebut tidak memiliki dasar kuat dalam literatur fikih Islam.
"Tidak ada larangan dalam syariat Islam untuk menikah, membangun rumah, atau mengadakan kegiatan baik lainnya pada bulan Muharram. Itu lebih banyak berkembang sebagai tradisi atau kepercayaan di sebagian masyarakat," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun ekonomi.
"Hijrah yang sesungguhnya adalah meninggalkan keburukan menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga tahun baru Islam ini menjadi titik awal perubahan positif bagi kita semua," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....