Menjaga Api Nasionalisme di Banua Menghadapi Tantangan Era Digital
- 14 Jul 2026 15:11 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Semangat nasionalisme perlu terus dijaga melalui kepedulian, persatuan, dan kontribusi nyata di tengah tantangan era digital. Pesan tersebut mengemuka dalam program Ngobras RRI Pro1 Banjarmasin bertema "Menjaga Api Nasionalisme di Banua", Senin, 13 Juli 2026.
Ketua PC Pemuda Panca Marga (PPM) Kota Banjarmasin sekaligus tokoh masyarakat, Drs. Alimun Hakim, mengatakan nasionalisme berawal dari rasa memiliki terhadap bangsa. Menurutnya, rasa memiliki akan mendorong setiap warga untuk menjaga, merawat, dan berkorban demi Indonesia.
“Nasionalisme adalah kebanggaan memiliki Negara Republik Indonesia yang harus terus dijaga lintas generasi, etnis, dan agama,” kata Alimun Hakim. “Kita tidak boleh kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia di tengah pengaruh global.”
Alimun menilai semangat nasionalisme generasi muda masih terjaga, meskipun cara mengekspresikannya telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Ia mengajak generasi muda aktif berorganisasi, mengenal sejarah perjuangan, melestarikan budaya Banua, serta mengunjungi situs-situs bersejarah.
“Kalau masuk organisasi, berikan manfaat untuk rakyat dan negara,” ujarnya. “Apa yang kita miliki, itulah yang harus dipersembahkan bagi Indonesia.”
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Banjarmasin sekaligus Koordinator Wilayah I Aliansi BEM se-Kalimantan Selatan, Hendra, mengatakan mahasiswa perlu memahami sejarah bangsa dan perjuangan di Banua agar semakin mencintai tanah air. Menurutnya, literasi dan penguasaan teknologi menjadi bekal penting dalam menjaga nasionalisme di era media sosial.
“Mahasiswa harus mengetahui sejarah bangsa dan sejarah perjuangan di Banua agar lebih mencintai tanah air,” ujar Hendra. “Kita juga harus kaya literasi dan melek teknologi.”
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Banjarmasin periode 2026–2027, Khairul Fikri, menilai nasionalisme tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Menurutnya, generasi muda juga membutuhkan keteladanan nyata dari para pemimpin dan wakil rakyat.
“Nasionalisme tidak cukup diajarkan melalui ceramah saja, tetapi juga melalui keteladanan para pemimpin,” ujar Khairul Fikri. “Generasi muda membutuhkan teladan nyata dari para pemimpin dan wakil rakyat.”
Fikri menambahkan, generasi muda boleh mencontoh berbagai hal baik dari negara maju. Namun, hal tersebut tidak boleh membuat mereka melupakan sejarah bangsa, sejarah lokal, serta nilai-nilai kebangsaan dan budaya daerah.
Melalui dialog tersebut, para narasumber sepakat bahwa menjaga api nasionalisme merupakan tanggung jawab bersama. Semangat itu diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan Banua untuk Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....