Komunikasi Jadi Kunci Menjaga Harmoni Sosial di Tengah Keberagaman
- 14 Jul 2026 10:48 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pentingnya saling berkomunikasi dan mencari jalan tengah, menjadi sorotan utama dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman. Konflik seperti penolakan tempat usaha nonhalal seperti yang kerap terjadi, bisa dihindari jika setiap pihak mengedepankan dialog dan saling menghormati norma lokal.
Menurut Dirjen Harmonisasi Kelembagaan Keagamaan BEM KM Universitas Negeri Semarang(Unnes), Naufal Herlian, perbedaan tanpa disertai komunikasi yang baik bisa menjadi polemik. Kerapnya kejadian konflik antara masyarakat mayoritas dan kaum minoritas, menurutnya memberikan pelajaran bagaimana masyarakat menghadapi keberagaman secara dewasa.
“Padahal di moderasi beragama sendiri, kita diajarkan untuk tetap teguh pada keyakinan masing-masing. Namun, juga mengedepankan dialog, saling menghormati dan mencari solusi bersama-sama,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 7 Juli 2026.
Kejadian seperti penolakan tempat penjualan makanan non-halal di lingkungan mayoritas, menurut Naufal kedua belah pihak sama-sama memiliki hak berusaha dan kenyamanan. Namun ia menggarisbawahi, jika kedua belah pihak saling menghormati dan membuka ruang untuk dialog.
“Jadi yang perlu dibangun itu bukan saling mempertentangkan hak, tapi mencari titik temu agar individu tetap terlindungi tanpa mengabaikan harmoni sosial. Intinya disitu tapi susahnya juga disitu, makanya dialog ini dibilang cara paling murah gitu untuk menghindari hal yang lebih merugikan,” ujarnya.
Naufal memandang bahwa persoalan tersebut, diantara faktor sosial budaya serta agama saling mempengaruhi dan terkait. Misalnya kejadian penolakan mi babi di Sukoharjo, yang disebutnya setelah ditelusuri salah satunya disebabkan belum ada diskusi terhadap warga setempat maupun izin dari pemangku wilayah.
“Tetapi memang yang paling mempengaruhi itu tadi, terkait diskusi dan komunikasi supaya bisa diambil jalan tengahnya. Karena hidup di masyarakat memang mengedepankan jalan tengah dan keselarasan, karena di tiap daerah norma dan aturan itu berbeda-beda,” ungkap Naufal.
Mengambil jalan tengah dan keselarasan sebenarnya terlihat di berbagai tempat, salah satunya adalah di Kudus. Naufal menceritakan, setiap Iduladha, masyarakat di sana berkurban menggunakan kerbau, karena memiliki kaitan sejarah meskipun penganut Hindu di daerah tersebut tidak terlalu banyak.
“Ini walaupun Islam sudah sangat mayoritas di sana, bahkan jadi kota santri yang banyak pesantrennya. Tentunya memang setiap individu memiliki hak atau keinginan, tapi alangkah lebih baik diambil jalan tengah yang sama-sama tidak merugikan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....