Komunikasi Terbuka Jadi Kunci Harmoni Rumah Tangga
- 13 Jul 2026 16:13 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Komunikasi terbuka dan relasi setara adalah kunci utama menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah perubahan sosial yang dinamis.
- Pembagian peran suami istri harus fleksibel dan disepakati bersama sesuai kebutuhan serta kemampuan masing-masing, bukan berdasarkan ekspektasi gender yang kaku.
- Hubungan yang sehat dibangun melalui saling menghargai, mendukung, komitmen, dan kemampuan berdialog sehat untuk mengubah konflik menjadi peluang memahami pasangan.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Komunikasi yang terbuka dan relasi yang setara menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah perubahan sosial saat ini. Hubungan yang sehat dinilai lahir dari sikap saling menghargai, saling mendukung, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog.
Hal tersebut disampaikan Koordinator Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Antasari, Helma Nuraini, S.Psi., M.Pd., saat Dialog Pengarusutamaan Gender di RRI Pro1 Banjarmasin, Senin, 13 Juli 2026. Menurutnya, perubahan pola kehidupan keluarga menuntut suami dan istri mampu menyesuaikan pembagian peran sesuai kondisi masing-masing.
“Peran suami dan istri tidak seharusnya dipahami sebagai siapa yang lebih berkuasa, tetapi bagaimana keduanya saling melengkapi sesuai kondisi keluarga,” ujar Helma Nuraini. “Komunikasi yang jujur dan terbuka menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan.”
Ia menjelaskan, konstruksi gender yang berkembang di masyarakat kerap membentuk ekspektasi berbeda terhadap laki-laki dan perempuan. Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan ketika pasangan merasa harus memenuhi peran yang dianggap ideal oleh lingkungan.
“Laki-laki sering dituntut selalu kuat, sementara perempuan dianggap harus memikul beban domestik lebih besar,” katanya. “Padahal, pembagian peran dapat disepakati bersama sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.”
Helma menambahkan, hubungan yang harmonis tidak hanya dibangun atas dasar rasa cinta, tetapi juga membutuhkan keintiman, komitmen, serta kemampuan menghadapi persoalan secara bersama. Dialog yang sehat membuat konflik menjadi sarana untuk saling memahami, bukan sumber perpecahan.
“Kesadaran terhadap diri sendiri menjadi langkah awal membangun relasi yang sehat,” ujar Helma Nuraini. “Saat seseorang mampu menerima diri, memaknai masalah secara lebih positif, dan merespons dengan bijak, hubungan keluarga akan lebih kuat menghadapi berbagai tantangan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....