Populasi Sapi Bali di NTT Anjlok, Pemerintah Diminta Optimalkan Lahan Pastur

  • 10 Jul 2026 17:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Tren penurunan populasi Sapi Bali di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam dua dekade terakhir memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan akademisi. Mengutip data BPS, populasi sapi di NTT yang pada tahun 2005 sempat mencapai 1.378.714 ekor, merosot tajam menjadi hanya kisaran 622.000 ekor pada tahun 2026.

Menanggapi fenomena ini, peneliti sekaligus Mahasiswa Magister Ilmu Peternakan Undana, Albertus Lake, S.Tr.Pt, mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah taktis melalui intervensi kebijakan tata guna lahan dan pemanfaatan potensi pesisir (blue economy). "Salah satu akar masalahnya adalah berkurangnya padang penggembalaan (pastur). Pemerintah harus jeli mengintervensi lahan-lahan non-produktif di tiap kabupaten untuk dijadikan pastur. Di sisi lain, kita punya komoditas laut melimpah seperti alga hijau Ulva lactuca yang belum disentuh sama sekali oleh kebijakan hilirisasi," tegas Albertus saat menjadi narasumber dalam Obrolan Akamsi RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 7 Juli 2026.

Albertus menjelaskan, Ulva lactuca atau selada laut berpotensi menjadi komoditas ekspor baru yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir. Di beberapa wilayah Indonesia seperti Tarakan, alga jenis ini sudah dibudidayakan secara kontinu untuk diekspor ke Korea sebagai bahan baku industri kosmetik.

"Potensi laut kita sangat luas, tapi selama ini nelayan hanya bergantung pada tangkapan ikan. Jika pemerintah mampu menarik investor untuk hilirisasi dan budidaya Ulva di NTT, ini akan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir, sekaligus substitusi bahan baku pakan protein impor yang harganya kian melambung," jelasnya.

Melalui riset aplikatifnya yang langsung mendampingi kelompok peternak di lapangan, Albertus berharap hasil kajian ilmiahnya tidak sekadar berakhir di rak perpustakaan kampus. Ia berencana mengajukan formulasi pakan lokal ini sebagai draf rekomendasi kebijakan bagi pemerintah provinsi dan daerah.

"Masyarakat kita butuh edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan, bukan sekadar seminar. Hilirisasi ekonomi biru lewat pemanfaatan Ulva lactuca ini bisa menjadi gebrakan nyata untuk menyelamatkan populasi ternak sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat NTT," jelasnya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....