Ayam Jadi "Petugas" Pengolah Sampah, Cuker Komposter Tawarkan Solusi Food Waste

  • 05 Jun 2026 06:35 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Sampah makanan masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah di Kota Semarang. Untuk mengatasi persoalan tersebut, akademisi menawarkan metode Cuker Komposter, sebuah sistem pengolahan sampah makanan yang memanfaatkan ayam sebagai "petugas" pengolah sampah sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.

Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang, Rusmadi, mengatakan berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 60,3 persen timbulan sampah di Kota Semarang berasal dari sampah makanan. Sementara, di tingkat Jawa Tengah, proporsinya mencapai sekitar 48,92 persen dari total timbulan sampah.

Menurutnya, sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dan berakhir di tempat pembuangan akhir berpotensi menghasilkan emisi gas metana dalam jumlah besar. Kondisi tersebut turut memperparah perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan lainnya.

Sebagai solusi, Rusmadi memperkenalkan metode Cuker Komposter yang memanfaatkan perilaku alami ayam dalam mematuk dan mengais makanan. Melalui metode ini, sisa makanan dapat langsung dimanfaatkan sebagai pakan sehingga proses penguraian berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan metode pengomposan konvensional.

"Cuker komposter ini sebenarnya dari filosofi orang kampung lah, cuker itu artinya dari dieker-eker gitu, jadi cuker itu dicucuk dan dieker-eker. Karena kita kalau dengan metode yang lain itu mungkin berbulan-bulan, tapi kalau dengan cuker komposter itu dalam hitungan jam selesai," ujarnya dalam dialog bersama Pro 4 RRI Semarang, edisi Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menjelaskan, selain mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, metode tersebut juga menghasilkan produk pangan berupa telur dan daging. Dengan demikian, pengelolaan sampah makanan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan ketahanan pangan masyarakat.

Rusmadi menyebut sebanyak 24 ekor ayam mampu mengolah hingga satu ton sampah makanan dalam satu tahun. Menurutnya, jika diterapkan secara komunal di tingkat RT maupun RW, metode tersebut berpotensi mengurangi timbulan sampah langsung dari sumbernya.

"Kita bayangkan kalau setiap kelompok komunitas warga ya, misalnya tingkat RW, tingkat RT itu punya pelihara 100 saja, itu sebenarnya sudah bisa mengolah sampah sisa makanan secara komunal. Kita bisa mengolah sampah itu langsung dari sumbernya," ucapnya.

Selain itu, pengolahan sampah makanan melalui Cuker Komposter juga dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca. Jika satu ton sampah makanan dibuang ke tempat pembuangan akhir, emisi yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 399 kilogram setara karbon dioksida. Namun, ketika dimanfaatkan sebagai pakan ayam, emisi tersebut dapat ditekan hingga sekitar 181 kilogram setara karbon dioksida.

Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam penerapan metode tersebut di kawasan perkotaan, terutama terkait ketersediaan lahan dan kekhawatiran masyarakat terhadap bau kandang. Menurutnya, persoalan tersebut dapat diatasi melalui pengelolaan kandang yang baik dan menjaga kebersihan secara rutin.

"Soal bau ini kita punya trik, misalnya setiap 3 hari sekali atau seminggu sekali lah paling tidak itu disemprot dengan misalnya EM4 atau ekoenzim itu. Kandang menjadi wangi satu hari, tidak bau sama sekali,” katanya.

Rusmadi berharap masyarakat semakin aktif mengelola sampah dari sumbernya dan tidak lagi bergantung pada pola kumpul-angkut-buang. Menurutnya, keterlibatan warga menjadi kunci untuk mengurangi dominasi sampah makanan sekaligus mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Kota Semarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....