Refleksi 20 Tahun Gempa 2006: Klaten Perkuat Budaya Siaga Bencana
- 30 Mei 2026 21:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Dua puluh tahun setelah gempa bumi 27 Mei 2006 mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, masyarakat Klaten terus memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana agar tragedi serupa tidak menimbulkan korban besar di masa mendatang.
Dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Surakarta, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Relawan, Diklat dan PMR PMI Kabupaten Klaten, Dr. Nur Tjahjono S., S.Sos., M.P.P., M.Eng, mengingatkan bahwa gempa bumi merupakan bencana yang tidak dapat diprediksi dan sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap.
Menurutnya, saat gempa berkekuatan 5,9 magnitudo terjadi pada pagi hari 27 Mei 2006, masyarakat Klaten mengalami kepanikan luar biasa. Minimnya pengetahuan tentang kebencanaan saat itu memicu beredarnya berbagai informasi keliru, termasuk isu tsunami yang membuat banyak warga berbondong-bondong mengungsi ke arah timur.
“Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat sangat diperlukan untuk mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Ketua Desa Tanggap Bencana (Destana) Desa Sengon Prambanan Klaten, Rahmad Widodo, S.E., M.M.B, mengungkapkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup parah. Banyak rumah roboh dan puluhan warga meninggal dunia. Ia bahkan kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa tersebut.
“Waktu itu masyarakat panik dan bingung. Banyak yang berlari ke perbukitan karena mengira akan terjadi tsunami. Sebagian besar warga mengalami trauma dan histeria,” katanya.
Secara geografis, Klaten memang termasuk wilayah rawan gempa karena berada di kawasan yang dipengaruhi sejumlah sesar aktif, termasuk Sesar Opak dan Sesar Dengkeng. Wilayah selatan Klaten seperti Prambanan, Gantiwarno, Wedi, dan Bayat menjadi daerah yang paling terdampak saat gempa 2006.
Dr. Nur Tjahjono menjelaskan bahwa paradigma penanggulangan bencana kini telah berubah. Jika sebelumnya fokus pada penanganan setelah bencana terjadi, kini upaya lebih diarahkan pada pengurangan risiko melalui mitigasi, kesiapsiagaan, edukasi, serta sistem peringatan dini.
Selain itu, masyarakat juga mulai didorong untuk membangun rumah yang lebih tahan gempa. Menurutnya, korban gempa umumnya disebabkan oleh runtuhnya bangunan, bukan oleh gempanya sendiri.
Di Desa Sengon, berbagai langkah mitigasi telah dilakukan. Destana setempat membuat peta rawan bencana, memasang jalur evakuasi, menyelenggarakan sosialisasi rutin, serta mengembangkan kawasan edukasi kebencanaan melalui Bumi Perkemahan Lindu Gede.
Rahmad menjelaskan, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat evakuasi akhir saat bencana, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi pelajar, komunitas, dan masyarakat umum. Setiap pengunjung diberikan pembekalan mengenai prosedur keselamatan saat menghadapi gempa, kebakaran, maupun ancaman bencana lainnya.
“Kami ingin masyarakat tidak terus-menerus terjebak dalam trauma, tetapi mampu beradaptasi dan hidup berdampingan dengan risiko bencana melalui pengetahuan dan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Terkait penyebaran informasi saat bencana, Dr. Nur Tjahjono menilai kemajuan teknologi telah membantu masyarakat memperoleh informasi yang lebih akurat. Berbagai sosialisasi melalui sekolah, komunitas, dan media sosial terus dilakukan untuk menangkal hoaks yang berpotensi memicu kepanikan.
Menutup dialog, kedua narasumber mengajak masyarakat untuk tidak melupakan pelajaran dari gempa 2006. Mereka menegaskan bahwa bencana merupakan bagian dari siklus alam yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui edukasi, simulasi, pembangunan yang aman, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Bencana mungkin tidak bisa dicegah, tetapi risikonya bisa dikurangi jika masyarakat siap dan memahami apa yang harus dilakukan,” ujar Dr. Nur Tjahjono.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....