Festival Penyu Berhasil Tekan Perdagangan Telur, 10 Ribu Tukik Diselamatkan
- 21 Mei 2026 12:41 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Telur penyu hampir tak lagi dijual di pasar-pasar Polewali Mandar setelah tujuh tahun gerakan konservasi yang digerakkan komunitas Festival Penyu Mampie.
Perkembangan menggembirakan itu diungkap Founder Festival Penyu Mampie, Yusri, dalam Dialog Suara Nusantara RRI Mamuju, Rabu 20 Mei 2026. Ia menyebut sejak festival pertama digelar, warga pelan-pelan meninggalkan praktik lama memperjualbelikan telur penyu sebagai konsumsi harian.
Yusri menceritakan, dulu telur penyu mudah ditemukan di pasar-pasar Sulawesi Barat dan dianggap makanan biasa di banyak keluarga.
“Bahkan saya sendiri dalam satu keluarga itu ya tidak bisa melihat ada telur penyu, langsung diambil dan dimasak menjadi bahan konsumsi, dan itu terus terjadi,” ujar Yusri.
Lewat Festival Penyu yang dikemas sebagai ajang kampanye lingkungan, panitia rutin melakukan edukasi ke pesisir, sosialisasi di pasar, serta aksi bersih pantai bersama warga dan aparat terkait. Ia menegaskan, konsistensi tujuh tahun itu membuat generasi muda di pesisir mulai memandang penyu sebagai satwa yang harus dijaga, bukan lagi sumber lauk tambahan.
Yusri menambahkan, di Pantai Mampie komunitas menerapkan konsep konservasi semi alami, bukan penangkaran di kolam seperti yang umum dikenal.
“Begitu dia menetas kita langsung rilis, artinya kita lepas, kalaupun ada yang biasa kami simpan itu tidak boleh lebih dari seminggu,” kata Yusri menjelaskan.
Dari catatan komunitas, sekitar 10 ribu tukik berhasil diselamatkan dan dilepas ke laut dari Pantai Mampie selama program berjalan. Hampir seluruh pesisir Sulawesi Barat disebut sebagai lokasi pendaratan penyu, namun Mampie menjadi salah satu titik awal kampanye dan pusat edukasi kepada masyarakat.
Yusri menyebut, selain menekan perdagangan telur, gerakan konservasi penyu juga berdampak pada kesadaran lebih luas tentang pentingnya menjaga ruang laut dan pesisir. Ia menilai, penyu berperan sebagai “penjaga ruang laut” yang membantu menjaga lamun, habitat penting bagi berkembang biaknya ikan yang dibutuhkan nelayan.
Ke depan, Yusri berharap keberhasilan tujuh tahun ini diikuti dukungan lebih kuat dari pemerintah melalui anggaran, kebijakan, dan replikasi model konservasi semi alami di pesisir lain Sulawesi Barat. Festival Penyu Mampie 2026 yang digelar 19–21 Juni diharapkan menjadi panggung refleksi dan perayaan atas capaian tersebut sekaligus memperluas jangkauan edukasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....