Insentif Mobil Listrik NMC Dinilai Perkuat Hilirisasi Nikel Nasional

  • 28 Agt 2026 05:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Insentif kendaraan listrik berbasis baterai NMC dinilai strategis untuk mempercepat hilirisasi nikel dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
  • Kebijakan insentif diharapkan mendorong penjualan kendaraan listrik sekaligus memperkuat industri baterai berbasis nikel di dalam negeri.
  • Project Coordinator ENTREV Eko Adji Buwono menilai keberpihakan kebijakan diperlukan agar industri baterai nasional mampu bersaing dengan teknologi baterai LFP.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rencana pemerintah memberikan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai nickel-manganese-cobalt (NMC) dinilai menjadi langkah strategis. Terutama, untuk mempercepat hilirisasi nikel sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Project Coordinator ENTREV, Eko Adji Buwono, mengatakan kebijakan tersebut dapat menjadi sinyal penting bagi pengembangan industri manufaktur berbasis nikel dengan nilai tambah tinggi di dalam negeri. Menurutnya, insentif tidak hanya berpotensi meningkatkan penjualan kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat ekosistem industri baterai nasional yang saat ini tengah dibangun dari hulu hingga hilir.

"IBC (anggota holding Grup MIND ID, Red) saat ini merupakan satu-satunya perusahaan milik pemerintah yang mendapat mandat membangun dan mengembangkan industri baterai berbasis nikel. Tentunya tanpa didukung kebijakan yang memberikan prioritas terhadap baterai berbasis nikel untuk digunakan di dalam negeri, akan sulit berkompetisi dengan baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP)," kata Eko dalam keterangannya, Kamis, 27 Agustus 2026.

Ia menilai keberpihakan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting agar investasi yang telah ditanamkan dalam pembangunan ekosistem baterai nasional dapat berkembang secara optimal. Indonesia saat ini tengah membangun rantai pasok baterai berbasis nikel yang mencakup sektor pertambangan, pengolahan mineral, hingga manufaktur sel baterai.

IBC melalui pabrik baterai kendaraan listrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang memiliki kapasitas produksi tahap awal sebesar 6,9 GWh. Kapasitas tersebut menjadi salah satu fondasi untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik nasional yang terus berkembang.

Eko mengatakan, pengembangan industri baterai nasional juga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Selain meningkatkan nilai tambah mineral, industri tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

"Sudah ada berbagai perhitungan mengenai dampak berlipat dari hilirisasi industri baterai. Yang paling nyata adalah peningkatan nilai tambah mineral, penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan impor baterai maupun impor BBM seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik," ujar Eko.

Insentif Kendaraan Listrik

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah akan menyiapkan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai NMC. Insentif ini merupakan bagian dari strategi memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.

Bahlil menyebut kendaraan listrik berbasis nikel menjadi salah satu prioritas. Karena, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang melimpah dan tengah membangun industri baterai berbasis NMC.

Menurut dia, baterai berbasis nikel memiliki keunggulan untuk kendaraan dengan kebutuhan jarak tempuh lebih jauh dibandingkan baterai berbasis LFP. Namun, biaya produksinya relatif lebih tinggi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan insentif kendaraan listrik, yang ditargetkan mencakup masing-masing 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit sepeda motor listrik pada tahun ini.

Untuk sepeda motor listrik, pemerintah mengalokasikan insentif sebesar Rp5 juta per unit. Sedangkan untuk mobil listrik disiapkan skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40 persen hingga 100 persen.

Pemerintah juga mengkaji pemberian insentif berdasarkan jenis baterai yang digunakan, termasuk membedakan kendaraan listrik berbasis nikel dan non-nikel. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing industri baterai nasional sekaligus mempercepat agenda hilirisasi nikel di Indonesia.

Dengan dukungan kebijakan yang komprehensif dan integrasi rantai pasok nikel nasional, Indonesia diharapkan semakin mampu bertransformasi dari negara eksportir bahan mentah menjadi produsen material dan produk bernilai tambah tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....