Mengapa Rupiah Bisa Melemah? Ini Penjelasannya

  • 31 Mar 2026 11:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebijakan The Fed dan sentimen global bisa menekan rupiah.
  • Mengimbangkan permintaan dan ketersediaan valas di dalam negeri bisa jadi salah satu cara menstabilkan rupiah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan rupiah seringkali mencerminkan kondisi ekonomi domestik dan mempengaruhi tingkat kepercayaan investor. Kondisi ini terus menjadi sorotan penting dalam perekonomian Indonesia.

Secara umum, rupiah bisa menguat atau melemah tergantung kondisi ekonomi saat itu. Bisa dari faktor internal maupun eksternal.

Melansir unair.ac.id, faktor eksternal menjadi penyebab utama pelemahan rupiah dalam banyak kasus. Salah satunya adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.

Ketidakpastian situasi dunia seperti perang dan krisis ekonomi turut memperlemah rupiah. Investor biasanya cenderung memindahkan aset ke instrumen yang lebih aman ketika konflik meningkat.

Selain itu, penguatan ekonomi AS juga membuat dolar semakin dominan. Hal ini membuat bank sentral AS berniat menaikkan suku bunga.

Akibatnya, uang dolar AS yang tersebar di berbagai negara tertarik kembali ke AS. Dolar AS akhirnya menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia termasuk rupiah.

Sedangkan faktor internal, salah satunya datang dari ketidakstabilan politik dan ekonomi domestik. Harga komoditas turun ditambah kebijakan yang tidak konsisten membuat investor merasa ragu dan menarik investasinya.

Hal itu memicu tekanan pada nilai tukar rupiah dan berdampak signifikan bagi pelaku usaha yang mengandalkan impor. Kondisi itu menyebabkan harga barang dan produksi dalam negeri naik yang pada gilirannya memicu inflasi.

Akibatnya daya beli dan daya saing produk Indonesia di pasar internasional merosot. Sehingga ini akhirnya membuat permintaan terhadap rupiah ikut melemah.

Sebut saja yang terjadi beberapa waktu belakangan ketika rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS. Kali ini kondisinya dipicu situasi geopolitik yang sedang tidak stabil seperti konflik Timur Tengah.

Di satu sisi, dalam sejarah rupiah pernah sangat kuat pada 1999. Saat itu nilai tukarnya mencapai rekor tertinggi di level Rp6.000 per dolar AS.

Namun setelah itu, rupiah mengalami depresiasi tajam dan tidak pernah kembali ke level sebelumnya. Hingga kini nilai rupiah tidak lagi mampu menyentuh angka di bawah Rp10.000 per dolar AS.

Dikutip dari laman Bank Indonesia, mengimbangkan permintaan dan ketersediaan valas di dalam negeri bisa jadi salah satu cara menstabilkan nilai rupiah. Indonesia harus lebih banyak melakukan ekspor baik barang maupun jasa, didukung penguatan daya saing ekonomi, industri nasional, dan kemampuan produksi dalam negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....