Rupiah Berbalik Menguat, Tinggalkan Level Rp17.000 per Dolar AS
- 31 Mar 2026 09:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai rukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan Selasa 31 Maret 2026 menjadi Rp16.986 per dolar AS.
- Perkembangan konflik AS-Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar.
- Terjadi tren penurunan imbal hasil surat berharga negara global dan penggunaan dolar AS khususnya di Selat Hormuz.
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa 31 Maret 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah naik 0,09 persen menjadi Rp16.986 per dolar AS.
Pada Senin 30 Maret 2026, rupiah ditutup melemah hingga menembus level psikologis Rp17.002 per dolar AS. Pada hari ini rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
"Semoga JISDOR rupiahnya balik ke Rp16.960 per dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana. Kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) adalah kurs referensi harian rupiah terhadap dolar AS yang diterbitkan Bank Indonesia (BI).
Menurut Fikri, perkembangan konflik AS-Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar. Klaim Presiden AS, Donald Trump, bahwa dirinya sudah melakukan pembicaraan konstruktif dengan Iran masih diragukan.
"Ini karena tidak jelas Trump berbicara dengan siapa dari pihak Iran," ujarnya. Faktor lainnya adalah tren menurunnya imbal hasil surat berharga negara secara global.
"Selain itu mulai adanya tren penurunan penggunaan dolar AS," ucap Fikri. Terutama di Selat Hormuz akibat ditutupnya jalur distribusi minyak utama dunia oleh Iran.
Di dalam negeri, ada kekhawatiran pelaku pasar akan risiko defisit fiskal domestik yang masih tinggi. Faktor ini juga ikut menahan mata uang rupiah ke arah penguatan.
Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengindikasikan masih kuatnya tekanan pasar valas. "Bank Indonesia (BI) berperan besar dalam mengintervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujarnya.
Menurut Rully, kenaikan harga minyak Brent ke kisaran USD115 per barel berpotensi menambah tekanan eksternal. Tekanan terhadap rupiah ini terjadi melalui inflasi dan beban subsidi energi.
"Sehingga mempertahankan term premium Surat Berharga negara (SBN) ikut terpengaruh," ujarnya. Menurut Rully, appetite risiko terhadap aset Indonesia berada dalam mode hati-hati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....