Kemenperin Gelar IFI 2026 untuk Perkuat Produk antara Pangan Lokal
- 19 Jun 2026 12:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemenperin menggelar IFI 2026 untuk mendorong pengembangan produk antara pangan berbasis sumber daya lokal.
- IKM pangan dinilai memiliki peran besar dalam industri nasional, namun masih menghadapi berbagai tantangan.
- Produk antara diyakini mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan memperkuat rantai pasok industri.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan daya saing industri pangan nasional melalui penyelenggaraan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026. Program ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas industri kecil dan menengah (IKM) pangan dalam mengembangkan produk berbasis antara sumber daya lokal.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan penguatan industri pangan perlu dilakukan secara menyeluruh. Langkah tersebut mencakup pemanfaatan sumber daya lokal hingga pengembangan produk antara sebagai bagian penting rantai pasok industri pangan nasional.
“Penguatan industri pangan nasional perlu dilakukan menyeluruh, dari pemanfaatan sumber daya lokal, pengembangan produk antara, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha. Supaya mereka mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Agus, pengembangan produk antara menjadi strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah sektor pangan. Selain itu, langkah tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan IFI 2026 yang secara khusus mengangkat tema produk antara. Program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak IKM pangan yang berstandar dan berorientasi pasar.
Pelaksanaan IFI 2026 diawali dengan kegiatan kickoff secara daring yang melibatkan pelaku IKM dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, asosiasi industri, perguruan tinggi, serta alumni program IFI.
Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menyebut industri makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar sektor manufaktur nasional. Pada triwulan I 2026, sektor tersebut berkontribusi 36,6 persen terhadap industri pengolahan.
Selain itu, nilai ekspor industri makanan dan minuman mencapai USD3,16 miliar pada Maret 2026. Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi sektor pangan dalam mendukung perekonomian nasional.
“Jumlah IKM mencapai 99,7 persen dari total unit usaha industri di Indonesia dan menyerap lebih dari 65 persen tenaga kerja sektor industri. IKM pangan menjadi yang terbesar dengan jumlah sekitar 2,07 juta unit usaha atau setara 46,63 persen dari total IKM nasional,” ujar Reni.
Meski demikian, pelaku IKM pangan masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan sumber daya, pemenuhan standar usaha, inovasi produk, hingga fluktuasi pasokan bahan baku.
Reni menilai pengembangan produk antara menjadi salah satu solusi yang dapat memperkuat posisi IKM pangan. Produk antara dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas akses pasar industri.
“Produk antara memiliki peran penting dalam penguatan industri pangan nasional karena mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Selain itu, pengembangan produk antara membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan keterhubungan IKM dengan industri yang lebih besar,” katanya.
Ia menjelaskan terdapat empat alasan utama produk antara perlu menjadi fokus pengembangan. Produk tersebut mampu meningkatkan nilai tambah, memperpanjang masa simpan pangan, membuka pasar B2B yang lebih luas, serta menjadi dasar inovasi produk hilir.
Menurutnya, pengembangan produk antara sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Kebijakan itu mendorong penguatan produksi pangan lokal dan perluasan akses pasar produk olahan dalam negeri.
Sebagai tindak lanjut, Kemenperin bersama Badan Pangan Nasional tengah menyusun berbagai insentif. Dukungan tersebut meliputi akses pembiayaan, subsidi teknologi, percepatan sertifikasi, fasilitasi pasar B2B, hingga standardisasi produk.
Sementara itu, Direktur Industri Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin, Afrizal Haris, mengatakan IFI telah menjadi program unggulan sejak 2020. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 2.000 IKM dari seluruh Indonesia.
“Tahun 2026 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya IFI secara khusus difokuskan pada pengembangan produk antara. Sebagai bagian dari upaya transformasi IKM pangan agar mampu masuk ke dalam rantai pasok industri yang lebih luas,” ujar Afrizal.
Peserta terpilih akan mengikuti Food Camp dan Food Business Scale-Up. Program tersebut mencakup pendampingan bisnis, manajemen risiko, keamanan pangan, hingga mentoring bersama akademisi dan praktisi industri.
Kemenperin optimistis IFI 2026 dapat melahirkan lebih banyak IKM pangan yang inovatif dan adaptif. Program ini juga diharapkan memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....