Bali Destinasi Terbaik Dunia, Bukan Sekadar Prestasi Simbolik
- 30 Jan 2026 20:47 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bali kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam “The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026” versi TripAdvisor. Penghargaan ini mencerminkan penilaian dan pengalaman wisatawan global terhadap Bali dalam periode tertentu.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Pariwisata Bali, Dr. Putu Diah Sastri Pitanatri, S.ST.Par., M.Par., CHE, kepada RRI, Jumat 30 Januari 2026 menilai penghargaan tersebut sebagai pengakuan internasional yang sangat signifikan. Menurutnya, ini bukan sekadar prestasi simbolik, tetapi refleksi langsung dari pengalaman wisatawan yang terekam melalui ulasan dan penilaian mereka.
Dikatakan, predikat tersebut juga menjadi mandat tanggung jawab bagi Bali ke depan. “etika ekspektasi global meningkat, maka standar layanan, tata kelola destinasi, serta perlindungan budaya dan lingkungan harus terus ditingkatkan.
Ia menjelaskan kekuatan utama Bali terletak pada kombinasi unik antara budaya, alam, dan spiritualitas. “Bali memiliki living culture yang benar-benar hidup dan dihidupi oleh masyarakatnya, dan ini jarang dimiliki destinasi lain,” jelasnya.
Bali, lanjut dia, tidak hanya menawarkan sesuatu untuk dilihat, tetapi juga pengalaman yang dapat dirasakan. Budaya Bali tidak sekadar dipertontonkan, melainkan dijalani melalui ritual, desa adat, dan ekosistem sosial yang autentik.
Keunggulan tersebut diperkuat oleh kematangan ekosistem pariwisata Bali yang sangat beragam. Akomodasi, atraksi, kuliner, transportasi, hingga layanan tur dinilai mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi wisatawan. Predikat Best of the Best dinilai berdampak besar terhadap citra pariwisata Bali di tingkat global.
“Pengakuan ini meningkatkan top of mind awareness sekaligus memperkuat kepercayaan wisatawan, investor, dan mitra internasional,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa citra positif yang meningkat secara cepat juga bersifat rentan. Jika kualitas yang dirasakan tidak sesuai dengan ekspektasi, maka akan muncul expectation gap yang bisa memicu ulasan negative.
Ia menilai peluang dan tantangan pengelolaan pariwisata Bali ke depan hadir secara simultan. “Di satu sisi ini mempercepat citra pariwisata berkualitas, tetapi di sisi lain berpotensi meningkatkan tekanan pada daya dukung,” jelasnya.
Lonjakan kunjungan wisatawan berisiko memicu persoalan kemacetan, sampah, dan keterbatasan sumber daya air. Menurutnya, tanpa pengelolaan berbasis data dan kebijakan yang disiplin, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi masalah struktural.
Untuk menjaga citra positif Bali, ia menekankan pentingnya keselarasan antara ekspektasi dan realitas. “Kebersihan, keamanan, kenyamanan, keautentikan budaya, serta kualitas layanan harus benar-benar dirasakan wisatawan,” katanya.
Ia menambahkan, pengelolaan daya dukung, penerapan standar layanan, dan penguatan narasi pariwisata budaya berkelanjutan harus menjadi prioritas. Strategi komunikasi juga harus realistis dan tidak overclaim agar pengalaman wisatawan tetap positif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....