Bali Turun Peringkat, Saatnya Benahi Pariwisata
- 24 Okt 2025 07:26 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Seperti minum kopi tanpa gula, turunnya peringkat Bali dari posisi pertama menjadi keenam destinasi wisata terbaik dunia terasa pahit, namun menyadarkan banyak pihak. Posisi Bali kini digantikan oleh sebuah pulau di Vietnam, menandakan perlunya evaluasi serius terhadap tata kelola pariwisata di Pulau Dewata.
Pengamat Pariwisata Bali, Wisnu Arimbawa, menilai bahwa kondisi ini menjadi cerminan perlunya pemerintah daerah lebih fokus dalam membenahi sektor pariwisata secara menyeluruh. “Pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota harus benar-benar menjadi Gubernur, Bupati, dan Walikota Pariwisata. Pariwisata adalah denyut nadi kehidupan Bali — menggerakkan ekonomi, budaya, seni hingga politik,” ujarnya di Denpasar, Jumat (24/10/2025).
Menurut Wisnu, berbagai persoalan mendasar seperti alih fungsi lahan yang masif, pengelolaan sampah yang belum optimal, dan kemacetan di kawasan wisata utama harus segera diatasi dengan langkah nyata. Ia menyoroti belum terlihatnya upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menuntaskan kemacetan di sentra wisata seperti Kuta, Denpasar, Ubud, dan kawasan Bali Selatan.
“Pelebaran jalan atau pembangunan underpass bukan solusi jangka panjang. Pemerintah harus berani membatasi jumlah kendaraan, menaikkan pajak progresif, serta berinvestasi besar pada transportasi umum dan massal,” tegas Wisnu.
Ia menambahkan, Bali bisa belajar dari Singapura yang mampu menjaga kebersihan, kelancaran, dan keteraturan transportasi meski wilayahnya hanya sepertiga luas Bali. Dengan penerapan pajak kendaraan tinggi, pengelolaan sampah yang disiplin, dan pembangunan sistem transportasi umum modern, negara tersebut berhasil menciptakan kenyamanan bagi warga dan wisatawan.
Wisnu mengingatkan, jika berbagai persoalan tersebut tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan, Bali berisiko kehilangan daya tariknya di mata dunia. “Tanpa pariwisata yang kuat, roda perekonomian Bali bisa melambat, bahkan masyarakatnya akan kesulitan bertahan hidup di tengah ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi terhadap sektor ini,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....