Pesona Pantai dan Shuttle Listrik Jadi Daya Tarik Desa Wisata Intaran

  • 04 Okt 2026 07:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Desa Adat Intaran, Sanur, Denpasar, terus mengoptimalkan potensi wilayahnya sebagai daya tarik wisata dengan mengembangkan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk transportasi umum berbasis listrik untuk memudahkan wisatawan menjangkau berbagai lokasi. Staf Media BUPDA Intaran, I Wayan Agus Bhara Dhiva, kepada RRI.CO.ID, Jumat, 2 Oktober 2026 mengatakan Desa Adat Intaran telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki sejumlah potensi wisata, mulai dari pantai hingga Mertasari atau Muntig Siokan. Keberadaan shuttle Desa Adat Intaran juga dinilai memudahkan wisatawan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

“Desa Adat Intaran sudah menjadi daya tarik wisata atau DTW. Di sini juga didukung dengan beberapa daya tarik wisata seperti pantai, kemudian ada private beach di Mertasari atau Muntig Siokan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, salah satu keunggulan Desa Adat Intaran dibandingkan kawasan desa wisata lainnya adalah suasana sunrise di kawasan pantai serta keberadaan transportasi umum yang dapat digunakan wisatawan untuk berkeliling. Agus menjelaskan, BUPDA Intaran juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan berbagai potensi dan layanan di kawasan Desa Adat Intaran.

Konten yang dipublikasikan mencakup daya tarik wisata, Subak Intaran, kondisi jalan, Pecalang Jaga Baya, program Tiang Bersama, hingga layanan shuttle. “Layanan shuttle Desa Adat Intaran juga saya push terus untuk kontennya agar wisatawan yang ingin melancong ke Desa Adat Intaran mengetahui kalau ada transportasi umum yang murah, praktis, kemudian ramah lingkungan karena shuttleDesa Adat Intaran itu berbasis baterai,” ungkapnya.

Keberadaan shuttle tersebut juga dinilai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat lokal. Sejumlah halte berada di kawasan yang terdapat usaha masyarakat, seperti art shop dan pedagang kerajinan tangan.

Agus mengatakan wisatawan dapat menikmati perjalanan menggunakan shuttle sambil melihat berbagai aktivitas dan produk usaha masyarakat lokal di sepanjang rute. “Kalau di shuttle ini ada beberapa titik halte yang turun mungkin di beberapa yang memiliki usaha-usaha seperti di Sindu, kemudian seperti di Cemara. Itu kan banyak masyarakat lokal kita yang berjualan art shop,” katanya.

Selain mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, penggunaan shuttle berbasis baterai juga disebut mendukung konsep kawasan rendah emisi di Desa Adat Intaran. Meski demikian, pengembangan desa wisata masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan parkir.

Parkir liar di badan jalan maupun trotoar dinilai dapat mengganggu kenyamanan wisatawan, khususnya pejalan kaki. Tantangan lainnya yakni persoalan sampah di kawasan pantai, terutama sampah kiriman yang terbawa angin dan arus laut.

Menurut Agus, petugas kebersihan telah melakukan pembersihan secara rutin pada pagi dan sore hari. Dalam pengelolaan daya tarik wisata, BUPDA Intaran juga mengutamakan keterlibatan sumber daya manusia dari masyarakat setempat.

Warga Desa Adat Intaran diprioritaskan untuk bekerja sebagai pengemudi shuttle, petugas kebersihan, maupun dalam kegiatan usaha dan UMKM di kawasan wisata. Agus berharap Desa Adat Intaran dapat mempertahankan keasrian dan keautentikan kawasan sekaligus meningkatkan kebersihan.

Ia juga berharap penggunaan transportasi listrik dapat membantu mengurangi kemacetan dan emisi karbon dari kendaraan berbahan bakar bensin. “Kemudian agar kemacetan di wewidangan Desa Adat Intaran ini tidak membludak, mari kita bersama-sama untuk parkir di spot-spot parkir yang sudah tersedia di kawasan Desa Adat Intaran dan berkunjung ke lokasi tujuan kita menggunakan shuttle Desa Adat Intaran,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....