Didominasi Penduduk Pendatang, Denpasar Perlu Terus Jaga Kerukunan
- 21 Sep 2026 08:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Sekitar 60 persen masyarakat Kota Denpasar disebut merupakan pendatang. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Denpasar sekaligus Ketua Pengurus Harian (PHDI) Kota Denpasar, I Made Arka, mengatakan kondisi tersebut membuat kerukunan menjadi hal penting untuk menjaga kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk.
“Kalau saya tidak salah itu 60 persen pendatang. Nah kalau sudah 60 persen pendatang, kita kan harus benar-benar menjaga kerukunan dan kedamaian,” ujar I Made Arka, kepada RRI.CO.ID, 20 September 2026.
Arka menjelaskan, pendatang yang dimaksud tidak selalu berasal dari luar Bali atau berbeda agama. Warga dari kabupaten lain seperti Buleleng, Karangasem, dan Klungkung yang menetap di Denpasar turut disebut sebagai pendatang.
“Tetapi pendatangnya bukan beda agama. Kalau dihitung, kalau saya tak salah, 82 persen tetap agama Hindu. Jadi sisanya agama yang lainnya,” katanya.
Menurut Arka, kondisi Denpasar yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang membuat komunikasi antarumat beragama perlu terus dibangun. Ia mengajak masyarakat dan majelis agama berkoordinasi serta berkolaborasi agar perbedaan tidak berkembang menjadi gesekan.
“Selaku Ketua FKUB Kota Denpasar dan Ketua PHDI, tentunya saya tetap mengimbau kepada umat sedarma semua, khususnya kepada enam agama yang ada di Indonesia ini dan di Denpasar tentunya, agar tetap terus berkoordinasi, berkolaborasi, menjaga kerukunan. Karena dengan kerukunanlah kita bisa damai,” ujarnya.
Arka mengatakan perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Menurutnya, masyarakat perlu melihat orang lain sebagai manusia yang bisa diajak berdiskusi tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai batas hubungan sosial.
“Ayo kita lihat bahwa dia itu adalah manusia. Manusia yang memang benar-benar dilahirkan untuk kita ajak berdiskusi. Nah kalau contohnya kita beda pendapat itu, menurut saya itu sangat biasa,” katanya.
Untuk menjaga hubungan tersebut, FKUB Denpasar menggelar pertemuan dan kunjungan antar-majelis agama setiap dua bulan. Kegiatan itu dilakukan dengan mengunjungi tempat ibadah dan lingkungan masing-masing majelis untuk membangun komunikasi secara langsung.
“Dalam setahun itu kita saling mengunjungi. Mengunjungi ke tempat-tempat majelis. Kayak kemarin kami di Pura Agung Lokonata, terakhir nanti dari Katolik akan menjamu kita di tanggal 24 ini rencananya,” ujar Arka.
Menurutnya, saling mengenal antarumat beragama dapat membuat komunikasi lebih mudah ketika muncul persoalan. Hubungan yang sudah terbangun diharapkan membuat setiap perbedaan dapat dibicarakan tanpa memperbesar masalah.
“Sehingga kami datang dari majelis yang lain agar bisa berkenalan dulu. Kan orang bilang tak kenal maka tak sayang. Dengan cara seperti itu kita sudah kenal, tentunya pasti ada komunikasi yang baik,” katanya.
Arka menegaskan, kegiatan tersebut merupakan penerapan kerukunan dalam kehidupan sosial, bukan sekadar jargon. Ia berharap masyarakat terus menjaga hubungan baik agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.
“Kalau kita sudah rukun, pasti kita akan bisa damai. Nah itu hal-hal yang kami lakukan di implementasi kehidupan sosial ini. Bukan hanya sebagai jargon saja, tapi kami langsung implementasi,” ujarnya.
Nilai kearifan lokal Bali, seperti saling asah, saling asuh, saling asih dan Tat Twam Asi, menurut Arka dapat menjadi pegangan dalam menjaga hubungan antarwarga. Konsep tersebut menempatkan orang lain sebagai bagian dari diri sendiri sehingga setiap tindakan perlu mempertimbangkan perasaan sesama.
“Nah, terus tumbuhkan rasa kasih sayang yang disebut dengan saling asah, saling asuh, saling asih. Dengan konsep Tat Twam Asi. Kan biasanya kamu adalah aku, aku adalah kamu. Kalau kita sudah merasa seperti itu, kita tidak mungkin akan menyakiti orang lain. Kalau kita merasa menyakiti orang lain, kita akan merasa sakit,” jelasnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, I Nyoman Arya, mengatakan perbedaan agama, etnis, dan suku merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Perbedaan tersebut tidak perlu disamakan, tetapi perlu ditempatkan dalam kehidupan yang harmonis.
“Kita meyakini adanya suatu perbedaan. Perbedaan agama, perbedaan etnis, perbedaan suku. Dengan kata lain adalah kita heterogen di dalam kita berbangsa dan bernegara,” ujar I Nyoman Arya, kepada RRI.CO.ID, 20 September 2026.
Arya mengatakan setiap agama memiliki akidah dan kitab suci yang berbeda. Namun, kedamaian dapat menjadi tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau kita berbicara agama, akidah itu tidak bisa kita samakan. Kitab suci itu tidak bisa kita samakan. Tetapi kalau kita berbicara agama secara komprehensif, tujuannya secara lain adalah kedamaian,” katanya.
Ia menekankan pentingnya memahami perbedaan tanpa merendahkan kelompok lain. Menurutnya, sikap merasa paling benar dapat menjadi awal munculnya rasisme, baik dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok.
“Agama itu memang menolak sikap rasisme. Kenapa? Karena rasisme itu adalah ajaran keakuan. Di dalam masing-masing yang kita dalami atau agama yang kita anut, dengan kata lain bahwasannya agama saya yang paling benar, ini rasis,” jelas Arya.
Arya menyebut rasisme tidak selalu muncul dalam hubungan antarumat beragama. Sikap tersebut dapat tumbuh dari lingkungan internal ketika seseorang atau kelompok meninggikan diri dan merendahkan kelompok lain.
“Benih-benih rasisme ini berada di internal umat beragama. Bahkan ini sangat sulit untuk dicegah sebenarnya. Dengan meninggikan diri, dengan meninggikan martabat, sehingga hal yang dianggap benar itu menjadi pembenar, bukan kebenaran,” ujarnya.
Menurut Arya, pencegahan perlu dimulai dari diri sendiri agar tidak muncul sikap yang merendahkan suku, ras, atau agama lain. Kerukunan, katanya, perlu dibangun dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dasar untuk mengembangkan rasisme ini kan dari internal dulu. Bahwasannya dirinya itu segala-galanya, sehingga mengecilkan harga diri suku lain, mengecilkan harga diri daripada ras, mengecilkan harga diri daripada agama yang memang di luar kita. Inilah sikap rasisme sebenarnya yang memang tertanam yang tidak disadari,” katanya.
Peringatan Hari Perdamaian Internasional yang diperingati setiap 21 September menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya menjaga hubungan baik di tengah perbedaan. Di Denpasar, upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi dan pertemuan lintas umat beragama agar persoalan yang muncul dapat diselesaikan melalui dialog.
Arka mengingatkan masyarakat dan media agar tidak terburu-buru memperbesar persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Informasi perlu ditelusuri dan dibicarakan terlebih dahulu agar gesekan kecil tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Karena kalau ada gesekan itu sedikit saja sekarang sudah viral. Media itu akan mem-blow up dan menjadi satu asumsi. Sehingga kami berharap termasuk teman-teman media agar begitu ada sedikit gesekan jangan langsung mem-blow up, tapi mencari titik sumber berita yang baik dulu baru didiskusikan agar bisa diselesaikan,” kata Arka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....