Ubah Stigma, Masyarakat Diminta Lebih Peka terhadap Krisis Bunuh Diri
- 14 Sep 2026 08:36 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Masyarakat diminta mengubah stigma terhadap orang yang mengalami krisis hingga memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. Anggapan bahwa kondisi tersebut merupakan tanda kelemahan, kurang bersyukur, atau sekadar mencari perhatian justru dapat menghambat seseorang memperoleh pertolongan.
Psikiater dr. I Gde Yudhi Kurniawan, M.Biomed., SpKJ, MH.Kes Psikolog, kepada RRI.CO.ID, Rabu 9 September 2026, mengatakan perilaku bunuh diri merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor. Menurutnya, seseorang dalam kondisi krisis dapat mengalami perasaan buntu atau hopeless sehingga tidak mampu melihat jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Karena itu, orang dalam krisis membutuhkan ruang untuk berbicara dan didengarkan tanpa penghakiman. Ia meminta masyarakat menganggap serius ketika seseorang mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
Masyarakat juga perlu berani bertanya secara terbuka, mendengarkan, kemudian menghubungkan orang tersebut dengan bantuan yang tepat. Ia menegaskan, bertanya mengenai pikiran bunuh diri tidak serta-merta mendorong seseorang untuk melakukannya.
Sebaliknya, komunikasi terbuka dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menyampaikan persoalan dan mendapatkan pertolongan. Menurutnya, masyarakat tidak harus memiliki seluruh jawaban untuk membantu seseorang yang sedang mengalami krisis.
Keberanian untuk hadir, mendengarkan, dan menemani mencari bantuan sudah menjadi langkah penting dalam
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....