Akademisi Unud Tekankan Literasi Bukan Sekadar Membaca dan Menulis

  • 10 Sep 2026 07:06 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Literasi dinilai tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menyaring informasi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. kepada RRI.CO.ID, Senin, 7 September 2026, dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional. Ia menjelaskan, tema literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran yang ditetapkan UNESCO memiliki makna luas dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, literasi mendorong manusia untuk memahami persoalan di sekitarnya dan menggunakan pengetahuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. “Konsep literasi sebetulnya tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pada kemampuan manusia untuk memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil satu keputusan sehingga dia bertanggung jawab secara penuh demi kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam perspektif bahasa dan sastra, literasi juga berkaitan erat dengan budaya serta kearifan lokal. Pembelajaran bahasa dan sastra tidak hanya mengajarkan kemampuan berkomunikasi, tetapi juga membentuk cara berpikir, tanggung jawab, dan pemahaman terhadap kehidupan sosial.

Prof. Made Sri Satyawati mengungkapkan, karya sastra dapat menjadi sarana untuk mempelajari berbagai persoalan kehidupan. Melalui sastra, masyarakat dapat memahami nilai budaya, etika, serta pengalaman manusia yang beragam.

“Literasi itu bukan membaca dan menulis saja. Hal tersebut berkaitan dengan budaya, bahasa, dan sastra yang menjadi satu gabungan yang harus dipahami oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, generasi muda saat ini membutuhkan literasi yang lebih luas karena berada dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Literasi yang diperlukan meliputi literasi budaya, literasi etika, literasi digital, hingga kemampuan memahami dan mengelola emosi.

Menurutnya, generasi muda harus mampu memahami informasi yang diterima, bukan sekadar mengambil atau menyalinnya. Penggunaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, juga harus dilakukan secara bertanggung jawab.

“Anak-anak muda itu menggunakan AI lebih bagus, teknologi digital lebih bagus. Itulah literasi mereka sekarang. Mereka juga harus mampu membedakan informasi dan hoaks, menjaga keamanan serta privasi digital, dan memahami jejak digital,” jelasnya.

Prof. Made Sri Satyawati menilai, tantangan terbesar dalam membangun budaya literasi generasi muda adalah perubahan teknologi, dinamika sosial ekonomi, serta pengaruh media sosial. Kondisi yang ditampilkan di media sosial, kata dia, tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk membedakan hal yang positif dan negatif, termasuk dalam menyikapi tren, gaya hidup, serta informasi yang beredar di ruang digital. “Anak-anak muda harus memahami mana yang positif, mana yang negatif, dan bagaimana caranya bermedia sosial serta menggunakan teknologi dengan baik,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Hari Literasi Internasional tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya literasi harus dibangun melalui kebiasaan, lingkungan yang mendukung, serta keteladanan dari orang-orang di sekitar.

Menurutnya, membaca seharusnya dilakukan bukan hanya karena adanya program sekolah, tetapi karena muncul keinginan untuk mencari informasi dan menemukan solusi. “Bukan membaca karena program membaca, tetapi memang karena ingin mencari sesuatu yang mereka cari. Membaca harus diubah menjadi kebiasaan berpikir,” katanya.

Ia juga mendorong penguatan budaya menulis dan diskusi di kalangan generasi muda. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan masyarakat yang mampu membaca informasi, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan dan menggunakannya untuk menghasilkan perubahan positif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....