Pemanfaatan AI dalam Jurnalistik Didorong, Perkuat Cek Fakta dan Kepercayaan

  • 07 Sep 2026 13:01 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya risiko penyebaran informasi keliru, insan pers dituntut memiliki kapasitas yang semakin kuat dalam melakukan verifikasi dan cek fakta guna menjaga akurasi serta kepercayaan publik. Merespons tantangan tersebut, Radar Bali akan menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalistik bertajuk “Pemanfaatan Akal Imitasi untuk Cek Fakta dalam Menjaga Kepercayaan Publik”.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, bertempat di Quest San Denpasar. Ketua panitia, Muhammad Ridwan menyampaikan, pelatihan tersebut ditujukan bagi insan pers, wartawan, serta peserta yang telah ditentukan.

Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi AI secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab dalam mendukung proses jurnalistik. "Wartawan dapat melakukan transormasi terhadap perkembangan zaman, seperti era AI saat ini, dimana kita dihadapkan dengan persoalan yang sensitif," ujar Muhammad Ridwan.

Pemanfaatan AI dalam kegiatan jurnalistik dinilai memiliki potensi untuk membantu kerja wartawan, khususnya dalam menelusuri, mengolah, dan membandingkan informasi. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan kontrol editorial dan kemampuan verifikasi manusia agar informasi yang dihasilkan tidak serta-merta diterima tanpa pemeriksaan terhadap sumber dan konteksnya.

Tak hanya pembahasan materi, pelatihan diawali dengan check kesehatan. Manager Marketing Gencom, I Wayan Gede Sugiantara menyampaikan, check kesehatan yang dilakukan seperti pengukuran tensi, gula darah, konsultasi, hingga tes kekuatan otot dengan alat terbaru membantu wartawan untuk menjalankan tugas dengan memperhatikan kesehatan.

"Sinergi kami dengan jurnalis memang untuk pemeriksaan sebagai bagian dari upaya preventif, agar jurnalis tetap menjalankan tugas dengan tetap memperhatikan kesehatan," ucapnya.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami posisi AI sebagai instrumen pendukung kerja jurnalistik, bukan sebagai pengganti prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Akurasi, independensi, keberimbangan, verifikasi, serta tanggung jawab terhadap publik tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya jurnalistik.

Kebutuhan terhadap kemampuan cek fakta semakin relevan seiring berkembangnya teknologi yang memungkinkan produksi dan penyebaran konten dilakukan secara cepat dalam skala besar. Kondisi tersebut menuntut wartawan memiliki literasi digital yang memadai agar mampu membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan, termasuk mengenali potensi manipulasi konten berbasis teknologi AI.

Selain aspek teknis, pemanfaatan AI dalam jurnalistik juga berkaitan dengan dimensi etika. Penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan transparansi, perlindungan terhadap sumber informasi, akurasi data, serta dampaknya terhadap masyarakat.

Karena itu, kompetensi digital perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kode etik jurnalistik dan tanggung jawab profesi. Pada akhirnya, penguasaan teknologi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, tetapi juga memperkuat fungsi pers sebagai penyedia informasi yang akurat, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Upaya tersebut menjadi penting untuk memastikan kepercayaan publik tetap terjaga di tengah dinamika ekosistem informasi digital yang semakin kompleks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....