Belajar Keberlanjutan Lingkungan sebelum Masuk Ruang Kuliah

  • 06 Sep 2026 05:33 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Orientasi pendidikan tinggi tidak hanya berkutat di ruang kelas atau pengenalan struktur birokrasi kampus. Menanamkan etika ekologis sejak hari pertama menjejakkan kaki di perguruan tinggi justru menjadi fondasi paling krusial untuk membentuk sensitivitas ilmiah para calon intelektual.

Langkah transformatif ini diusung Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa (Unwar). Menjelang dimulainya tahun akademik baru, mahasiswa baru tidak diajak berdiskusi di dalam aula formal, melainkan diterjunkan langsung menyusuri Pesisir Pantai Sidakarya, Denpasar, Sabtu 5 September 2026.

Melalui kegiatan Kerja Bakti Sosial (Kerbaksos), para mahasiswa baru diajak melakukan pembersihan sampah plastik pesisir sekaligus menanam bibit mangrove di kawasan muara. Dekan FPST Unwar Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si. menegaskan kegiatan ini dirancang bukan sekadar aksi seremonial tahunan atau pemenuhan kewajiban pengabdian masyarakat.

Lebih dari itu, aksi lapangan ini merupakan bentuk pembelajaran inkubatif untuk melatih empati sosial dan kepekaan ekologis mahasiswa sebelum mereka menerima teori akademis di ruang kuliah. "Kebersihan dan daya dukung lingkungan adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan hidup kita ke depan. Mahasiswa baru harus menyadari sejak awal bahwa ilmu yang akan mereka pelajari di laboratorium dan ruang kelas harus berakar pada realitas serta kebutuhan lingkungan sekitar," ujar Prof. Suriati.

Prof. Suriati mengatakan, langkah FPST Unwar menekankan pergeseran paradigma orientasi kampus dari model indoktrinasi menuju model aksi ekologis nyata. Pesisir Sidakarya dipilih secara strategis karena kawasan ini menjadi titik temu dinamika perkotaan Denpasar dan ekosistem pesisir yang rentan terhadap akumulasi sampah anorganik serta ancaman abrasi.

Ia menjelaskan, interaksi langsung mahasiswa dengan realitas penumpukan sampah laut (marine debris) serta vegetasi mangrove memberikan wawasan awal mengenai sains lingkungan secara utuh. Dengan menyentuh tanah, memilah sampah, dan menanam pohon, mahasiswa diajak memahami siklus keberlanjutan (sustainability) secara intuitif.

"Menjaga ekosistem bukan hanya tugas hari ini, melainkan investasi jangka panjang agar generasi mendatang tetap mendapat daya dukung lingkungan yang layak. Manusia baru bisa dikatakan bermakna jika keberadaannya memberi manfaat bagi masyarakat luas dan masa depan bumi," tuturnya.

Sementara, Bendesa Adat Desa Sidakarya, I Ketut Suka, mengapresiasi keberanian para mahasiswa dan dosen yang memilih terjun langsung ke lapangan ketimbang sekadar berwacana. Ketut Suka menyentil tren kepedulian lingkungan saat ini yang kerap berhenti pada tataran retorika di media sosial tanpa pernah menginjakkan kaki di lokasi masalah yang sebenarnya.

Menurutnya, aksi konkret jauh lebih berharga daripada narasi tanpa kerja nyata. "Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena langsung melakukan aksi nyata di lapangan. Saat ini banyak pihak mengaku peduli lingkungan, tetapi jangankan menanam atau membersihkan, menginjakkan kaki di lokasi konservasi saja tidak pernah. Mereka hanya ramai di media," ujar Suka.

Suka mengingatkan kawasan pesisir Sidakarya merupakan daerah konservasi strategis yang berfungsi ganda bagi Kawasan Metropolitan Denpasar. Selain menjadi paru-paru kota, hutan mangrove di kawasan ini merupakan benteng alami (natural barrier) utama untuk memitigasi risiko bencana pesisir seperti abrasi dan ancaman tsunami.

"Jika jalan atau ruang untuk alam kita ambil secara serampangan, pada akhirnya air dan alam itu sendiri yang akan mengambilnya kembali dari manusia. Oleh karena itu, menjaga mangrove ini adalah menjaga benteng keselamatan kita bersama," tegasnya.

Suka menambahkan, dinamika perkotaan seperti di Denpasar memang telah mengikis lahan-lahan pertanian konvensional. Namun, hal itu justru menjadi tantangan terbuka bagi mahasiswa FPST Unwar untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi pertanian modern, seperti urban farming atau sistem budidaya terintegrasi berbasis teknologi.

"Jangan melihat pertanian hanya terbatas pada sawah di kota saja. Cakupan sains pertanian itu sangat luas. Kami berharap adik-adik mahasiswa ini dibimbing oleh para dosen agar mampu mengembangkan teknologi pertanian modern, tidak lagi terjebak cara-cara tradisional belakangan ini, sehingga ilmunya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas," tutur Suka.

Aksi bersih pantai dan penanaman mangrove ini menjadi pintu masuk bagi kolaborasi jangka panjang antara Unwar dan Desa Adat Sidakarya. Kampus berkomitmen menjadikan wilayah pedesaan dan pesisir sebagai laboratorium sosial serta mitra kajian ilmiah yang inklusif.

Kedepan, persoalan lingkungan yang diidentifikasi mahasiswa di lapangan akan ditindaklanjuti melalui intervensi keilmuan yang lebih mendalam, baik melalui riset dosen, Kuliah Kerja Nyata (KKN), maupun program pengabdian berbasis inovasi teknologi tepat guna. Sinergi ini menempatkan perguruan tinggi tidak lagi sebagai "menara gading" yang terisolasi, melainkan sebagai pusat solusi atas krisis ekologi di tingkat lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....