Beban Puncak Konsumsi Listrik di Bali Nyaris 1.300 MW

  • 31 Agt 2026 21:06 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Konsumsi listrik di Bali tumbuh 8,02 persen pada semester I 2026. Pertumbuhan yang termasuk tinggi secara nasional itu terjadi seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pariwisata, dan sektor usaha di Pulau Dewata.

Kenaikan konsumsi tersebut diikuti peningkatan beban listrik. General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali Ajrun Karim mengatakan beban puncak sistem kelistrikan Bali kini mendekati 1.300 megawatt (MW).

“Pertumbuhan listriknya melampaui pertumbuhan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul kehidupan. Listrik menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Ketika kebutuhan listrik terus bergerak, itu menunjukkan roda ekonomi juga terus berputar,” jelasnya, Senin 31 Agustus 2026.

Ajrun mengatakan peningkatan kebutuhan listrik membuat PLN mempercepat penambahan kapasitas pembangkit. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha.

“Ini menunjukkan bahwa listrik semakin menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi. Karena itu, keandalan pasokan menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan kegiatan masyarakat dan dunia usaha dapat terus berjalan,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan energi dalam jangka panjang, PLN juga mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Bali. Salah satu sumber yang dinilai potensial adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

PLTS dapat dikembangkan melalui sejumlah skema, mulai dari PLTS ground mounted, PLTS terapung di waduk atau bendungan, hingga PLTS atap. Pengembangannya disebut mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 serta program nasional PLTS 100 gigawatt (GW).

“PLTS menjadi salah satu tumpuan utama karena pembangunan yang paling mudah dan cepat adalah PLTS, sesuai RUPTL 2025-2034 dan program nasional PLTS 100 GW. Harapannya, dengan pengembangan pembangkit energi terbarukan, Bali nantinya dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya,” ujar Ajrun.

Menurut Ajrun, kebutuhan listrik Bali akan terus meningkat seiring peran pulau tersebut sebagai salah satu pusat pariwisata dan kegiatan ekonomi nasional. Konsumsi listrik berasal dari berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga hotel, restoran, pusat perdagangan, fasilitas publik, dan industri kreatif.

Ia berharap peningkatan konsumsi listrik tidak hanya mencerminkan bertambahnya kebutuhan energi, tetapi juga mendorong produktivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. “Kami berharap listrik tidak digunakan hanya sebagai media penerangan. Lebih jauh, listrik digunakan sebagai penggerak ekonomi mikro maupun makro, penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....