Koster Tegaskan Bali Tak Sekadar Kejar Net Zero Emission
- 29 Agt 2026 21:58 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan arah kebijakan energi Bali tidak semata-mata mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2045. Menurutnya, agenda yang lebih mendasar adalah membangun Bali Mandiri Energi melalui pemanfaatan sumber energi yang bersih, baru, dan terbarukan sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Koster saat menerima audiensi Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) di Jayasabha, Denpasar, Jumat 28 Agustus 2026. “Bali tidak hanya Net Zero Emission. Agenda utamanya Bali Mandiri Energi. Sumber energinya bersih, baru, dan terbarukan,” tegas Koster.
Menurut Koster, kebijakan energi bersih di Bali tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya memenuhi komitmen terhadap agenda perubahan iklim dunia. Lebih dari itu, transisi energi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkualitas.
Ia menekankan pentingnya memastikan udara yang dihirup masyarakat tetap bersih, tingkat polusi menurun, lingkungan terjaga, serta pangan yang dikonsumsi masyarakat berkualitas. “Dengan demikian kualitas udara bagus, polusi turun, penyakit juga menurun. Itu target saya,” ujar Koster.
Untuk mencapai kemandirian energi, Koster mendorong transformasi sistem energi Bali dengan mengurangi secara bertahap ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Saat ini, sistem kelistrikan Bali masih memperoleh sebagian pasokan dari pembangkit berbasis fosil, termasuk sekitar 35 megawatt (MW) dari Paiton yang menggunakan batu bara.
Ke depan, Bali diarahkan meningkatkan pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, seperti tenaga surya, gas, energi gelombang, dan energi angin. Menurut Koster, transformasi tersebut telah masuk dalam rencana sistem kelistrikan PLN dan prosesnya tengah berjalan.
Salah satu strategi utama yang didorong adalah mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pemanfaatannya diarahkan tidak hanya pada pembangkit berskala besar, tetapi juga di berbagai fasilitas, seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, dan fasilitas publik lainnya.
Koster menyebut Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan dukungan terhadap pengembangan PLTS di Bali dengan kapasitas hingga 1.500 MW. Menurutnya, semakin besar porsi energi bersih dalam sistem kelistrikan Bali, semakin besar pula peluang menekan polusi dan meningkatkan kualitas lingkungan.
“Semakin berkurangnya penggunaan energi fosil, polusi akan turun, kualitas udara meningkat, dan masyarakat dapat hidup lebih sehat,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa Bali tidak menjalankan transisi energi semata-mata untuk memenuhi agenda global menuju Net Zero Emission. Lebih fundamental dari itu, kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga alam Bali dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Bali tidak hanya Net Zero Emission. Agenda utamanya Bali Mandiri Energi. Sumber energinya bersih, baru, dan terbarukan,” tegas Koster.
Dengan demikian, target Net Zero Emission 2045 ditempatkan sebagai bagian dari agenda besar Bali Mandiri Energi, yakni membangun sistem energi yang lebih bersih sekaligus memastikan alam tetap terjaga dan masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang sehat dan berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....